- Perkeretaapian: 302.823 orang (178.006 antarkota, 124.817 perkotaan/regional)
- Angkutan Udara: 207.261 orang (161.598 domestik, 45.663 internasional)
- Penyeberangan: 189.804 orang
- Angkutan Darat: 161.054 orang (145.340 bus, 15.714 travel)
- Angkutan Laut: 54.693 orang
Arus Kendaraan di Tol dan Arteri: Jabodetabek Masih Mendominasi
Selain pergerakan penumpang, volume kendaraan di jalur tol dan arteri juga menjadi indikator penting. Pada H-1, kendaraan yang keluar dari gerbang tol Jakarta tercatat sebanyak 117.016 unit, sementara yang masuk mencapai 66.210 unit.
Secara keseluruhan, total pergerakan kendaraan keluar dan masuk di gerbang tol Jabodetabek mencapai 248.349 unit, sementara di gerbang tol non-Jabodetabek tercatat 236.758 unit.
Di ruas arteri, kendaraan yang keluar dari Jabodetabek mencapai 474.454 unit, dan yang masuk sebanyak 360.479 unit. Sementara pergerakan kendaraan di ruas arteri non-Jabodetabek mencapai 491.901 unit.
Kinerja Ketepatan Waktu: Kereta Api Tertinggi, Penyeberangan Terendah
Kemenhub juga merilis data ketepatan waktu (on time performance/OTP) angkutan umum pada H-1. Kereta api mencatatkan kinerja tertinggi, sementara moda penyeberangan mengalami tantangan terbesar:
| Moda | OTP H-1 |
|---|---|
| Perkeretaapian Regional | 98,90% |
| Perkeretaapian Antarkota | 98,20% |
| Angkutan Laut | 95,70% |
| Angkutan Udara Domestik | 85,79% |
| Angkutan Darat | 72,49% |
| Angkutan Udara Internasional | 70,24% |
| Penyeberangan | 63,19% |
Titis menjelaskan bahwa rendahnya OTP penyeberangan dipengaruhi oleh faktor cuaca dan antrean panjang di pelabuhan utama seperti Merak dan Bakauheni.
Antisipasi Arus Balik: Puncak Diprediksi 24 Maret
Dengan arus mudik yang tercatat sangat padat, Kemenhub kini mengalihkan fokus pada persiapan arus balik. Titis mengimbau masyarakat untuk mulai merencanakan perjalanan pulang lebih awal guna menghindari kemacetan parah.
"Puncak arus balik diperkirakan terjadi pada 24 Maret 2026 (H+3). Masyarakat kami imbau untuk merencanakan perjalanan arus balik lebih awal, menghindari waktu-waktu puncak, serta mempertimbangkan alternatif jadwal perjalanan guna mengurangi kepadatan dan memastikan perjalanan tetap aman dan nyaman," ujar Titis.
Imbauan lainnya meliputi: