"Begitu juga untuk daerah bertopografi curam bergunung atau rawan longsor agar tetap waspada khususnya pada kejadian hujan dengan intensitas ringan hingga lebat yang terjadi selama beberapa hari berturut-turut," sambungnya.
Analisis BMKG: Apa Penyebab Cuaca Ekstrem 28 Maret?
Teguh menjelaskan bahwa cuaca ekstrem yang melanda Kota Bandung pada 28 Maret 2026 disebabkan oleh beberapa faktor yang mendukung potensi pembentukan awan konvektif (awan hujan) secara masif.
Faktor Pemicu:
| Faktor | Keterangan |
|---|---|
| Suhu muka laut yang hangat | Meningkatkan penguapan dan pasokan uap air |
| Gelombang atmosfer Equatorial Rossby | Aktif dan memicu konveksi skala luas |
| Kelembapan udara sangat tinggi | Pada lapisan 850–500 mb berkisar 50–95% |
| Labilitas atmosfer kategori sedang–lebat | Menyebabkan udara mudah naik dan membentuk awan hujan |
"Tingkat labilitas atmosfer kategori sedang hingga lebat, yang secara kolektif menjadi pemicu utama meningkatnya potensi pertumbuhan awan konvektif skala lokal yang masif di sebagian besar wilayah Jawa Barat," terangnya.
Kronologi Hujan Lebat 28 Maret: Dari Siang hingga Sore
Berdasarkan interpretasi citra radar, bibit awan konvektif mulai terpantau di sebagian wilayah Kota Bandung sejak pukul 11.41 WIB. Secara bertahap namun pasti, awan tersebut tumbuh berkembang menjadi awan konvektif yang signifikan hingga mencakup sebagian besar wilayah Kota Bandung.
"Reflektifitas awan mencapai 35 – 55 dBZ. Kondisi ini mengindikasikan terjadinya hujan sedang hingga lebat di wilayah Kota Bandung pada rentang waktu antara menjelang siang hingga sore hari," jelas Teguh.
Nilai reflektifitas 35–55 dBZ menunjukkan intensitas hujan yang cukup tinggi, berpotensi disertai petir dan angin kencang.
Imbauan BMKG untuk Masyarakat
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca terkini melalui kanal-kanal resmi. Jangan mudah percaya pada informasi yang tidak jelas sumbernya.
"Untuk memastikan cuaca ke depan, kami berharap masyarakat terus mengupdate kondisi cuaca melalui kanal resmi BMKG, baik itu media sosial maupun di website resmi BMKG," ujar Teguh.