ragam

Iran Klaim Siapkan Sejuta Pejuang, AS Dipersilakan Datang Kalau Siap Pulang Nama

Senin, 30 Maret 2026 | 12:52 WIB
Foto Istimewa



Menariknya, di tengah ancaman perang, justru terjadi lonjakan pendaftaran sukarelawan dari kalangan pemuda. Pusat-pusat perekrutan dilaporkan dipadati warga yang ingin “ikut ambil bagian” sebuah fenomena yang dalam situasi normal mungkin disebut patriotisme, tapi dalam konteks ini terasa seperti kesiapan kolektif menghadapi badai.





Selain Pulau Kharg, perhatian global juga tertuju pada Selat Hormuz jalur laut vital yang menjadi salah satu arteri utama distribusi energi dunia. Iran menegaskan komitmennya untuk mempertahankan kendali atas kawasan tersebut, bahkan jika harus menghadapi tekanan militer langsung.





Menurut sumber militer, setiap upaya AS untuk membuka selat itu secara paksa tidak hanya akan dianggap sebagai agresi, tetapi juga sebagai tindakan “pengorbanan diri”.





Dengan kata lain, pesan yang ingin disampaikan cukup jelas: masuk boleh, keluar belum tentu.





Pernyataan keras ini muncul di tengah meningkatnya spekulasi tentang kemungkinan eskalasi konflik antara AS dan Iran, terutama setelah berbagai langkah militer dan diplomatik yang saling berbalas dalam beberapa pekan terakhir.





Meski belum ada keputusan resmi terkait invasi darat, pernyataan dari pihak Iran menunjukkan bahwa mereka tidak hanya bersiap secara militer, tetapi juga secara psikologis membangun narasi bahwa setiap langkah agresif akan dibayar mahal.





Di panggung global yang sudah penuh dengan ketidakpastian, satu hal tampaknya pasti: jika retorika adalah indikator, maka kedua pihak saat ini sedang berbicara dalam bahasa yang sama yaitu bahasa ancaman.





Dan seperti biasa, dunia hanya bisa menonton, sambil berharap “mode neraka” ini tidak benar-benar diaktifkan.

Halaman:

Tags

Terkini