| Kategori | Persentase Wilayah Jabar |
|---|---|
| Kemarau lebih cepat dari normal | 66% |
| Kemarau sesuai normal | 25% |
| Kemarau lebih lambat dari normal | 7% |
Selain itu, BMKG juga memprediksi kondisi musim kemarau tahun ini cenderung kering, dengan sekitar 93 persen wilayah mengalami kemarau di bawah normal (lebih kering dari biasanya).
Puncak Kemarau: Agustus di 90 Persen Wilayah
Vivi menyebut puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus di sekitar 90 persen wilayah Jawa Barat. Sebagian kecil wilayah lainnya mengalami puncak pada Juli dan September.
"Wilayah di Jawa Barat diprediksi mengalami durasi musim kemarau lebih panjang atau lebih lama dari biasanya," kata dia.
Imbauan BMKG: Hemat Air, Waspada Kebakaran
Menghadapi kondisi ini, BMKG mengimbau pemerintah dan masyarakat untuk mengantisipasi dampak kekeringan dengan langkah-langkah berikut:
1. Optimalisasi Sumber Daya Air
- Kelola waduk dan embung secara optimal
- Lakukan penghematan penggunaan air bersih
2. Sektor Pertanian
- Petani diminta menyesuaikan kalender tanam
- Gunakan varietas tanaman tahan kekeringan
3. Sektor Kebencanaan
- Waspadai potensi kekeringan ekstrem
- Waspadai kebakaran hutan dan lahan (karhutla)
"Untuk sektor kebencanaan, dimohon kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan dan kejadian kebakaran hutan dan lahan," kata Vivi.
Ringkasan Data Kemarau Jabar 2026
| Indikator | Persentase |
|---|---|
| Wilayah dengan kemarau lebih cepat | 66% |
| Wilayah dengan kemarau lebih kering | 93% |
| Puncak kemarau (Agustus) | 90% wilayah |
| Mulai kemarau (Mei) | 56% wilayah |
Musim kemarau tahun 2026 diprediksi menjadi salah satu yang paling ekstrem dalam beberapa tahun terakhir di Jawa Barat. Dengan 66 persen wilayah mengalami kemarau lebih cepat dan 93 persen wilayah cenderung lebih kering dari normal, semua pihak—masyarakat, petani, pemerintah daerah, dan sektor kebencanaan—harus bersiap. Hemat air mulai sekarang, waspadai kebakaran, dan sesuaikan pola tanam! (**)