ragam

Anak Buruh Tani Dari Garut ke Kampus Poltekkes Bandung, Bukti Mimpi Tak Butuh Rekening Tebal

Selasa, 21 April 2026 | 13:38 WIB
Foto Istimewa


LOCUSonline, GARUT - Di tengah hiruk-pikuk lorong rumah sakit yang sibuk, seorang mahasiswi melangkah mantap menjalani praktik klinis. Namanya Sulistia Haerani. Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar rutinitas akademik. Namun bagi Sulis, setiap langkah adalah “jawaban” dari doa panjang yang lahir di rumah sederhana di pelosok Garut tempat mimpi besar tumbuh dengan fasilitas yang serba terbatas.





Lahir pada Mei 2004, Sulis bukan datang dari latar belakang yang biasa disebut “punya privilege.” Ayahnya bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan sekitar Rp1,5 juta per bulan sebuah angka yang jika dimasukkan ke dalam simulasi biaya kuliah, sering kali berakhir dengan kata: “tidak memungkinkan.” Namun, realitas tak selalu tunduk pada logika angka.





Alih-alih menjadikan keterbatasan sebagai alasan berhenti, Sulis justru menjadikannya bahan bakar. Ia kini tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Keperawatan di Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung sebuah capaian yang dulu lebih mirip angan-angan daripada rencana.





“Masuklah ke jurusan keperawatan, biar jadi orang yang bermanfaat,” begitu pesan sederhana sang ibu yang kemudian menjadi semacam GPS kehidupan bagi Sulis tanpa sinyal, tapi selalu tepat arah.





Momentum penting datang saat ia duduk di kelas 12. Melalui program beasiswa dari LAZ Rumah Yatim, Sulis mendapatkan akses bimbingan belajar intensif. Hasilnya tak main-main, ia lolos seleksi perguruan tinggi pada pilihan pertama.





“Senang, haru, campur aduk. Ini bukan cuma usaha saya, tapi juga doa orang tua dan bantuan banyak pihak,” ujarnya.





Beasiswa tersebut menjadi “sponsor utama” perjalanan akademiknya. Dari biaya makan hingga perlengkapan kuliah, semuanya ditopang oleh donasi sebuah bukti bahwa kebaikan kolektif bisa mengalahkan keterbatasan individu.


Halaman:

Terkini