[Locusonline.co] Jakarta – Raksasa perangkat lunak Oracle dilaporkan tengah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang berdampak pada ribuan staf di seluruh dunia. Langkah drastis ini diambil di tengah upaya perusahaan meningkatkan pengeluaran besar-besaran untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Dilansir dari CNBC dan Rolling Out, pemberitahuan PHK dilakukan melalui email yang dikirimkan pada Selasa pagi pukul 06.00 waktu setempat. Para pekerja di Amerika Serikat, India, dan berbagai wilayah lainnya melaporkan bahwa akses ke sistem internal perusahaan dicabut hampir seketika setelah email tersebut diterima.
Estimasi PHK: 20.000–30.000 Karyawan, 18% dari Total Tenaga Kerja
Berdasarkan estimasi analis, pemangkasan ini bisa mencapai 20.000 hingga 30.000 karyawan, atau sekitar 18 persen dari total 162.000 tenaga kerja global Oracle per Mei 2025. Hingga saat ini, Oracle sendiri menolak memberikan komentar resmi terkait gelombang pengurangan tenaga kerja ini.
| Estimasi PHK | Persentase dari Total Karyawan |
|---|---|
| 20.000 – 30.000 orang | ~18% (dari 162.000 karyawan) |
Alasan PHK: Pendanaan Ekspansi AI
Langkah efisiensi ini berkaitan erat dengan ambisi Oracle dalam persaingan infrastruktur AI. Analis dari TD Cowen dalam catatannya menyebutkan bahwa pengurangan 20.000 hingga 30.000 staf dapat menghasilkan tambahan arus kas bebas sebesar 8 miliar dolar AS hingga 10 miliar dolar AS.
Dana tersebut sangat dibutuhkan untuk membiayai pembangunan pusat data yang mampu menangani beban kerja AI yang berat. Saat ini, Oracle menghadapi tekanan investor akibat beban utang yang meningkat dan penurunan harga saham hingga 25 persen sepanjang tahun ini.
"Permintaan untuk infrastruktur AI, baik GPU maupun CPU, terus melampaui pasokan," kata Clay Magouyrk, salah satu pimpinan Oracle, dalam panggilan pendapatan bulan ini.
Divisi yang Paling Terdampak
Berdasarkan laporan dari forum profesional, beberapa unit bisnis mengalami pengurangan staf hingga 30 persen. Unit yang paling terdampak antara lain: