politik

"Shut Up KDM" di GBLA Saat Tribun Bicara, Politik Diminta Turun dari Lapangan Persib

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:30 WIB
Foto Istimewa

LOCUSonline, BANDUNG - Stadion bukan hanya tempat gol tercipta, tapi juga ruang di mana keresahan publik kadang lebih nyaring dari suara komentator. Itulah yang terjadi saat laga Persib Bandung melawan Arema FC di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, ketika sebuah banner bertuliskan “Shut Up KDM” tiba-tiba terbentang di tribun utara pada babak kedua.

Tulisan singkat, tapi efeknya panjang. Publik langsung berspekulasi: siapa KDM, dan kenapa harus diam? Arah tafsir pun mengerucut ke sosok Dedi Mulyadi, yang belakangan kerap dikaitkan dengan dinamika Persib.

Sekretaris Umum Viking Persib Club, Arland Sidha, menjelaskan bahwa kemunculan banner tersebut bukan sekadar aksi iseng tribun, melainkan akumulasi keresahan Bobotoh sebutan bagi pendukung Persib.

"Persib ini punya modal sosial besar, yakni Bobotoh. Tapi kemudian muncul persepsi adanya keterlibatan elit politik yang dikhawatirkan membawa kepentingan tertentu," ujar Arland, Minggu (26/4/2026).

Menurutnya, keresahan itu muncul dari kekhawatiran bahwa klub kebanggaan Jawa Barat mulai terseret ke ranah yang bukan tempatnya panggung politik. Meski tidak ada tudingan spesifik publik seperti biasa cukup kreatif dalam mengisi kekosongan makna.

Arland menegaskan, tidak ada yang salah jika seorang politisi memang mencintai Persib. Namun persoalan muncul ketika kecintaan itu dianggap terlalu terlihat, apalagi jika dibungkus dalam konten media sosial.

Baca Juga: KPK Bongkar “Dapur Politik”: Rekomendasi Reformasi Partai Politik Diserahkan ke Presiden Prabowo dan DPR

Ia menyinggung unggahan terkait bantuan dana Rp1 miliar dari Maruarar Sirait yang sempat dipublikasikan menjelang laga Persib kontra Dewa United. Bagi sebagian Bobotoh, momen itu terasa lebih seperti publikasi ketimbang dukungan.

"Kalau bantuan ya sudah, tidak perlu diumumkan. Ketika diunggah, muncul persepsi seolah-olah ada panggung yang ingin diambil," katanya.

Ironisnya, menurut Arland, sebelumnya Dedi Mulyadi sempat mendapat simpati dari Bobotoh karena menyatakan tidak akan ikut campur urusan Persib sebagai klub profesional. Namun, dinamika media sosial tampaknya lebih cepat mengubah persepsi dibandingkan pernyataan resmi.

"Awalnya bagus, beliau bilang hanya hadir saat konvoi juara. Tapi ketika ada unggahan itu, masyarakat menafsirkan berbeda," ujarnya.

Meski begitu, Arland menegaskan bahwa banner "Shut Up KDM" tidak semata ditujukan kepada satu orang. Ia menyebut pesan tersebut sebagai peringatan kolektif bagi seluruh elit politik agar tidak menjadikan Persib sebagai alat pencitraan.

"Ini bukan soal satu figur. Ini warning untuk semua politisi agar tidak menggunakan Persib sebagai panggung, apalagi saat tim butuh dukungan murni," tegasnya.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa di era modern, tribun stadion bukan lagi sekadar tempat menyanyi dan mendukung tim. Ia telah menjelma menjadi ruang ekspresi sosial yang kadang tajam, kadang satir, tapi hampir selalu jujur.

Halaman:

Terkini