Kamis, 4 Juni 2026

Pro dan Kontra Wacana Libur Sekolah Sebulan Selama Ramadan, Menag: Sekolah Negeri Maupun Swasta Dalam Tahap Pertimbangan

Photo Author
Bhegin, Locusonline.co
- Kamis, 2 Januari 2025 | 11:36 WIB
Menag Nasaruddin Umar
Menag Nasaruddin Umar

LOCUSONLINE, JAKARTA - Pro dan Kontra Wacana Libur Sekolah: Wacana penerapan libur sekolah selama sebulan penuh di bulan Ramadan kembali mengemuka dan memicu perdebatan di tengah masyarakat.

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyatakan bahwa pondok pesantren sudah menerapkan libur selama Ramadan, namun untuk sekolah-sekolah negeri maupun swasta masih dalam tahap pertimbangan.

"Ya, sebetulnya sudah warga Kementerian Agama, khususnya di pondok pesantren, itu libur. Tetapi sekolah-sekolah yang lain juga masih sedang kita wacanakan, tetapi ya nanti tunggulah penyampaian-penyampaian," kata Nasaruddin kepada wartawan, di Monas, Senin (31/12/2024) malam.

Nasaruddin menekankan bahwa yang terpenting selama Ramadan adalah kualitas ibadah, bukan soal libur sekolah. Ia berharap Ramadan mendatang dapat menjadi momen yang lebih berkualitas bagi anak-anak, dengan kesempatan untuk mengamalkan nilai-nilai agama Islam secara nyata, bukan hanya teori di sekolah.

"Kami berharap mudah-mudahan Ramadan kali ini bisa lebih berkualitas. Kualitasnya itu ada anak-anak kita bisa lebih berkonsentrasi, mengaji, menghafal Qur'an, mengamalkan amalan-amalan sosial agama Islam, tidak hanya teori ya di sekolah, tapi juga ada pengamalan, kita kan beribadah puasa, mungkin juga ada berkumpul bersama keluarganya, mungkin juga akan ada yang mengamalkan amalan-amalan sosial di bulan Ramadan, kan pahalanya banyak ya," katanya.

DPR Minta Kajian Matang, Masyarakat Beragam Pendapat

Wacana ini mendapat tanggapan beragam dari anggota DPR dan masyarakat. Anggota Komisi VIII DPR F-PDIP Selly Andriyani Gantina meminta agar dilakukan kajian yang matang agar tidak mengurangi kualitas pendidikan.

"Pentingnya memastikan bahwa kebijakan ini tidak mengurangi kualitas pendidikan. Pendidikan agama maupun umum di madrasah dan pondok pesantren harus tetap terjamin. Ramadan memang menjadi momen penting untuk memperkuat nilai-nilai spiritual, tetapi kita juga harus memastikan bahwa pembelajaran tetap berjalan dengan efektif, baik secara formal maupun non-formal. Jika libur panjang diterapkan, perlu ada skema untuk mengganti waktu belajar yang hilang agar tidak ada kurikulum yang tertinggal," kata Selly kepada wartawan, Selasa (31/12/2024).

Selly juga menyarankan agar libur selama satu bulan diimbangi dengan kegiatan produktif, seperti pesantren kilat, bimbingan keagamaan, atau kegiatan sosial selama Ramadan.

Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian meminta agar aturan tersebut dirancang secara inklusif sebelum diterapkan. Ia menilai wacana ini memiliki potensi dampak positif dan negatif yang perlu dipertimbangkan secara matang.

"Wacana meliburkan anak sekolah selama satu bulan saat bulan puasa memiliki potensi dampak positif dan negatif yang perlu dipertimbangkan secara matang," kata Hetifah kepada wartawan, Selasa (31/12).

Hetifah memaparkan bahwa libur selama sebulan Ramadan dapat memberikan ruang bagi siswa muslim untuk fokus menjalankan ibadah puasa dan aktivitas agama tanpa terganggu aktivitas sekolah. Namun, ia juga mengingatkan bahwa libur panjang dapat mengganggu kalender pendidikan dan perlu dipertimbangkan solusi kompensasi yang tepat.

Hetifah menilai kebijakan libur penuh saat Ramadan ini cenderung lebih relevan untuk siswa muslim, namun perlu dipertimbangkan dampaknya terhadap siswa non-Muslim agar inklusifitas dan kesetaraan dalam sistem pendidikan tetap terjaga.

Masyarakat Beragam Pendapat, MUI Minta Dikaji

Warga masyarakat memiliki beragam pendapat tentang wacana libur sekolah selama Ramadan. Beberapa orang tua setuju dengan wacana ini, sementara yang lain khawatir anak-anak mereka akan kehilangan kesempatan belajar dan hanya menghabiskan waktu di rumah.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah, Cholil Nafis, mengatakan wacana libur sekolah selama sebulan di saat Ramadan perlu dikaji lebih mendalam. Ia menilai sekolah umum perlu menyesuaikan dengan kurikulum dan mempertimbangkan bahwa tidak semua murid di sekolah umum beragama Islam.

"Mungkin bisa untuk pesantren (libur sebulan saat Ramadan) karena kurikulum dan masa belajarnya mungkin berbeda. Kalau sebagian pesantren sudah melaksanakan libur panjang bahkan seminggu sebelum Ramadan dan masuk seminggu setelah Ramadan. Hampir ya, 45 hari malah liburnya," kata Cholil kepada wartawan, Rabu (1/1/2025).

Cholil berpendapat bahwa ada baiknya siswa tetap melakukan pembelajaran di sekolah, dengan penekanan pada pendidikan karakter dan penguatan spiritual selama masa Ramadan.

"Alangkah baiknya Ramadan tetap di dalam sekolah, tetapi kurikulum sekolah itu atau pengajarannya di sekolah itu lebih diperbanyak pendidikan karakter, penguatan spiritualnya. Nah sekarang kan banyak agama hanya pengajarannya, bukan pendidikannya," tutur Cholil.

Editor: Bhegin

Editor: Bhegin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X