Kamis, 4 Juni 2026

Peringatan Hari Pendidikan Nasional: Di Balik Semangat "Merdeka Belajar", Integritas Pendidikan Terancam

Photo Author
Bhegin, Locusonline.co
- Jumat, 2 Mei 2025 | 08:53 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

LOCUSONLINE, JAKARTA - Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini diwarnai dengan dilema mendalam. Di tengah semangat "Merdeka Belajar" dan tema "Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu Untuk Semua", kita dihadapkan pada kenyataan pahit: merosotnya integritas pendidikan nasional. Jumat, 2 Mei 2025

Data Survei Penilaian Integritas (SPI) 2024 dari KPK menunjukkan penurunan signifikan skor integritas pendidikan dari 73,7 (2023) menjadi 69,50. Temuan ini, yang melibatkan 36.888 satuan pendidikan dan 449.865 responden, menempatkan integritas pendidikan pada level "koreksi". Praktik menyontek yang merajalela di 78% sekolah dan 98% kampus, ketidakdisiplinan akademik yang tinggi (45% siswa, 84% mahasiswa), dan gratifikasi (22% sekolah) menjadi bukti nyata krisis integritas.

Kondisi ini mencerminkan hilangnya esensi pendidikan yang sebenarnya: pembentukan karakter dan penanaman nilai moral. Pragmatisme dan obsesi formalitas menggeser fokus pada proses pembelajaran bermakna. Seperti pepatah lama, "Tak kenal maka tak sayang", kita seolah lupa bahwa pendidikan bukan hanya soal mengejar nilai dan gelar, tetapi juga membangun manusia yang berakhlak mulia dan berintegritas.

Kita perlu kembali pada hakikat pendidikan yang sesungguhnya. Pemikiran Plato dan Aristoteles menekankan pengembangan holistik individu, sementara Ki Hadjar Dewantara menitikberatkan pendidikan yang memerdekakan dan berakar budaya. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pun secara eksplisit menyatakan tujuan pendidikan yang komprehensif, mencakup aspek spiritual, moral, dan keterampilan.

Sayangnya, realitas di lapangan berbeda. Fokus pendidikan seringkali terpaku pada transfer pengetahuan dan keterampilan kognitif, mengabaikan pembinaan sikap hidup dan karakter. Pendidikan seringkali hanya "mengajar", bukan "mendidik". Mengajar bagaikan memberi air dan pupuk pada pohon, sementara mendidik menjamin pohon tumbuh kuat, berakar kokoh, dan berbuah lebat.

Contohnya, di tengah maraknya program "Merdeka Belajar", kita masih menemukan banyak siswa yang kesulitan memahami konsep dasar pelajaran, bahkan tak jarang mereka terjebak dalam budaya "mencontek" dan "mencari jalan pintas". Hal ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang bermakna belum sepenuhnya terwujud.

Pembinaan sikap hidup – kecenderungan batin untuk memilih kebaikan – merupakan kunci pendidikan holistik. Pendekatan pengajaran yang hanya fokus pada transfer pengetahuan tanpa pembinaan sikap hidup yang mendalam, menjadi akar permasalahan perilaku buruk. Pendidikan yang belum membentuk sikap hidup yang baik adalah pendidikan yang belum selesai. Pendidikan yang berkualitas harus nyata, bukan sekadar retorika, dengan mengedepankan pembentukan karakter dan nilai-nilai luhur sebagai pondasi utama.

Sebagai contoh, kita sering mendengar kasus korupsi yang melibatkan pejabat negara, bahkan di kalangan pelajar. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai kejujuran dan integritas belum sepenuhnya tertanam dalam diri mereka. Pendidikan yang berfokus pada pembentukan karakter dan nilai-nilai luhur dapat menjadi solusi untuk mencegah perilaku koruptif dan membangun bangsa yang berintegritas.

Kita perlu berbenah dan kembali pada esensi pendidikan yang sesungguhnya, yaitu membentuk manusia yang berakhlak mulia, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan zaman. Hanya dengan demikian, cita-cita "Merdeka Belajar" dan "Pendidikan Bermutu Untuk Semua" dapat terwujud.

Editor: Bhegin

Editor: Bhegin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X