Kamis, 4 Juni 2026

Iran Gempur Markas Kirya: Serangan Simbolik yang Bongkar Ilusi Ketangguhan Israel

Photo Author
Bhegin, Locusonline.co
- Minggu, 15 Juni 2025 | 19:12 WIB
Rudal balistik diluncurkan dari Iran ke Israel sebagai balasan atas serangan udara terhadap target-target di Iran. Foto: Al Jazeera
Rudal balistik diluncurkan dari Iran ke Israel sebagai balasan atas serangan udara terhadap target-target di Iran. Foto: Al Jazeera

LOCUSONLINE, GARUT – Ketegangan kawasan Timur Tengah kian membara setelah Iran meluncurkan serangan balasan besar-besaran terhadap Israel dengan menargetkan Kirya, pusat komando militer paling vital di jantung Tel Aviv, pada Sabtu (15/6/2025). Langkah ini menyusul serangan udara Israel yang menghancurkan beberapa fasilitas militer dan nuklir Iran, menewaskan puluhan orang, termasuk pejabat tinggi militer Teheran. Minggu 15 Juni 2025

Kompleks Kirya—dikenal sebagai “Pentagon-nya Israel”—menjadi sasaran rudal dan drone Iran dalam Operasi Janji Sejati III, aksi balasan atas serangan mendadak Israel pada Jumat (13/6), yang menewaskan Komandan Garda Revolusi Iran Hossein Salami dan Kepala Staf Militer Mohammad Baqeri. Sebanyak 78 orang tewas dan lebih dari 320 lainnya terluka dalam serangan tersebut.

Simbol Kekuasaan Militer yang Digoyang

Kirya bukan sekadar instalasi militer. Kompleks ini menjadi jantung kendali Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Kementerian Pertahanan, dan pusat komando intelijen strategis. Serangan Iran yang menargetkan Menara Marganit—pusat komunikasi vital di Kirya—mengirimkan pesan tajam: Israel tak kebal serangan.

Meskipun sistem pertahanan Iron Dome dan Arrow berhasil mencegat sebagian besar rudal, setidaknya sembilan lokasi di wilayah metropolitan Tel Aviv terkena dampak, termasuk kawasan sipil yang mengalami kerusakan. Lima warga sipil dilaporkan terluka akibat pecahan proyektil.

Serangan Strategis, Bukan Sekadar Balas Dendam

Menurut analis militer, keputusan Iran menyerang Kirya bersifat strategis dan simbolis. Teheran ingin menunjukkan bahwa mereka mampu menembus jantung pertahanan Israel dan merusak ilusi dominasi militer yang selama ini dijaga ketat oleh Tel Aviv.

“Serangan ini bukan hanya reaksi emosional, tapi pesan militer dan geopolitik: Iran bisa menyerang pusat kendali Israel kapan pun dibutuhkan,” tulis The New Arab dalam laporannya.

Pemerintah Netanyahu Diuji

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut serangan ini sebagai ujian bagi eksistensi Israel dan berjanji akan terus melancarkan operasi militer. Namun serangan terhadap Kirya menimbulkan guncangan psikologis di dalam negeri. Kepercayaan publik terhadap keandalan sistem pertahanan udara dan keputusan pemerintah untuk memulai serangan ke Iran mulai dipertanyakan.

Serangan awal Israel terhadap Iran disebut-sebut tidak didorong oleh ancaman langsung, melainkan inisiatif pre-emptive untuk melemahkan program nuklir Teheran. Langkah tersebut kini dinilai sebagai tindakan gegabah yang menyeret kawasan menuju eskalasi lebih luas.

Peringatan Ayatollah Khamenei dan Desakan Internasional

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyatakan bahwa Israel telah membuka babak “perang terbuka”. Sementara itu, sejumlah negara Teluk, Amerika Serikat, dan Uni Eropa menyerukan penahanan diri untuk mencegah konflik penuh skala antara dua kekuatan utama di Timur Tengah.

Serangan terhadap Kirya menandai titik balik penting: ketika narasi dominasi militer Israel dipertanyakan, dan kemampuan Iran untuk menyeimbangkan kekuatan di panggung regional mulai terbukti. Dunia kini menanti, apakah dua negara ini akan melanjutkan spiral balas dendam atau menemukan celah diplomasi di tengah reruntuhan ego geopolitik. (BAAS)

Editor: Bhegin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X