Kamis, 4 Juni 2026

Cegah Stunting Bukan Sekadar Kampanye: IPB Latih Fasilitator Jadi Garda Depan di Desa

Photo Author
Bhegin, Locusonline.co
- Sabtu, 21 Juni 2025 | 15:14 WIB
Peserta Pelatihan Fasilitator Keluarga
Peserta Pelatihan Fasilitator Keluarga

LOCUSONLINE, BOGOR — Ancaman stunting di Indonesia tak bisa diselesaikan dengan slogan dan seremonial belaka. Menyadari pentingnya peran keluarga dalam membentuk generasi sehat, IPB University melalui Direktorat Pengembangan Masyarakat Agromaritim (DPMA) bekerja sama dengan Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ekologi Manusia, menggelar pelatihan intensif bagi para fasilitator keluarga.

Pelatihan bertajuk “Penguatan Fungsi Keluarga untuk Pencegahan Stunting pada Periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)” itu digelar pada Selasa (17/6/2025), secara luring di Agribusiness and Technology Park IPB dan daring via Zoom. Peserta terdiri dari fasilitator desa lingkar kampus serta utusan dari berbagai daerah di Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari Sekolah Keluarga Berkualitas—sebuah inisiatif strategis IPB untuk menyiapkan kader lokal yang mampu menjadi pendamping keluarga dalam mengatasi tantangan pengasuhan di masa krusial: dari kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

Baca Juga : “Makan Bergizi atau Bingkisan Hajatan? Program MBG di Tangsel Dinilai Menyimpang dari Tujuan Awal”



Ketua Departemen IKK, Tin Herawati, menekankan pentingnya delapan fungsi keluarga sebagai fondasi membentuk generasi unggul. “Ketika keluarga berfungsi optimal, kita tak hanya cegah stunting, tapi mencetak manusia Indonesia yang sehat dan cerdas sejak dalam kandungan,” ujarnya.

Materi pelatihan difokuskan pada praktik pengasuhan yang efektif selama periode 1000 HPK—fase krusial pertumbuhan otak dan organ vital anak. Peserta diajak memahami bahwa fungsi keluarga bukan sebatas kasih sayang dan ekonomi, tapi juga mencakup perlindungan, pendidikan, hingga pembinaan lingkungan yang sehat.

Respons peserta, baik yang hadir langsung maupun secara daring, menunjukkan tingginya urgensi pelatihan ini. Diskusi berjalan aktif, mencerminkan kekhawatiran dan kesiapan para kader untuk menjadi agen perubahan di komunitas masing-masing.

DPMA dan IKK berharap pelatihan ini melahirkan fasilitator tangguh yang tidak hanya paham teori, tetapi juga siap turun tangan mendampingi keluarga dalam mencegah stunting di akar rumput. Tak ada lagi ruang untuk pendekatan setengah hati—perubahan dimulai dari keluarga, dipandu oleh mereka yang terlatih dan paham medan. (Husni)

Editor: Bhegin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X