LOCUSONLINE, GARUT – Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (PERURI) kini tak hanya mencetak uang, tetapi juga mulai mencetak masa depan baru bagi sektor pertanian nasional. Lewat inovasi teknologi smart farming berbasis Internet of Things (IoT), PERURI menggulirkan transformasi digital di lahan pertanian Garut, Jawa Barat. Sabtu, 5 Juli 2025
Program ini resmi diluncurkan di tiga kecamatan, yakni Cisurupan, Cikajang, dan Banjarwangi, sebagai bentuk kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan serta upaya mendorong pertanian konvensional menuju era pertanian presisi.
"Teknologi menjadi kunci untuk menjawab tantangan pertanian saat ini. Dengan smart farming, kami ingin menciptakan sistem yang efisien, hemat biaya, dan tetap ramah lingkungan," ujar Aris Wibowo, Penanggung Jawab Strategic Corporate Branding dan TJSL PERURI, Sabtu (5/7/2025).
Baca Juga :
Jabar Menata Ruang, Tetapi Konservasi Hanya di Papan: Investigasi Tata Ruang & Alih Fungsi Lahan
Petani Indonesia selama ini dihadapkan pada berbagai kendala, mulai dari cuaca ekstrem hingga harga komoditas yang fluktuatif. PERURI hadir menawarkan solusi berbasis data dan teknologi yang memungkinkan petani mengelola lahan secara real-time, memantau cuaca dan kelembapan tanah, serta mengatur irigasi dan pemupukan secara otomatis.
Dengan pendekatan ini, petani dapat menanam dengan waktu yang tepat, meningkatkan hasil panen, serta menekan biaya produksi—tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.
Transformasi pertanian tak hanya berhenti di teknologi. PERURI menggandeng Tinatani Harvest Indonesia, perusahaan hortikultura lokal yang berpusat di Kampung Andir, Kecamatan Cisurupan. Kolaborasi ini bertujuan memperkuat pendampingan petani sekaligus memastikan hasil panen terserap pasar melalui skema bisnis B2B (business-to-business).
Petani tak hanya diajak mahir dalam bercocok tanam, tapi juga diberi akses pasar yang stabil, sehingga hasil kerja mereka mendapat nilai jual yang lebih baik.
Program ini tidak semata-mata fokus pada produksi, tetapi juga menyentuh aspek pemberdayaan dan pembangunan kapasitas. Melalui pelatihan, pendampingan teknis, dan akses terhadap teknologi, petani lokal dilatih menjadi pelaku utama dalam pertanian digital.
Petani dibekali kemampuan mengelola sumber daya air dan pupuk secara tepat guna, memanfaatkan data iklim dan tanah untuk pengambilan keputusan, serta mengakses jalur distribusi yang menguntungkan.
Langkah PERURI di Garut menjadi preseden positif bagi transformasi sektor pertanian nasional. Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi model pengembangan pertanian berbasis teknologi di berbagai daerah lain di Indonesia.
Dari pencetak uang negara, kini PERURI ikut mencetak masa depan pertanian Indonesia yang cerdas, berkelanjutan, dan inklusif. (Bhegin)