Kamis, 4 Juni 2026

Ketika Tentara Turun Cangkul dan Petani Baru Lulus Magang, Sawah Tumbuh, Harapan Subur

Photo Author
Bhegin, Locusonline.co
- Minggu, 6 Juli 2025 | 14:11 WIB
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi panen raya tanaman holtikultura agroforestri di Gunung Hejo, Kecamatan Darangdan, Purwakarta, Sabtu (5/7/2027). (Foto Istimewa)
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi panen raya tanaman holtikultura agroforestri di Gunung Hejo, Kecamatan Darangdan, Purwakarta, Sabtu (5/7/2027). (Foto Istimewa)

LOCUSONLINE, PURWAKARTA – Sebuah eksperimen agri-militer tengah berlangsung di Desa Gunung Hejo, Kecamatan Darangdan, Purwakarta. Di atas lahan tidur seluas 200 hektare, tangan-tangan petani pemula bersatu dengan sepatu lars TNI Angkatan Darat, mencoba menumbuhkan tak hanya pohon durian dan pete, tapi juga optimisme yang sempat layu. Minggu, 6 Juli 2025

Proyek bernama “Agroforestri” ini digagas sejak akhir Februari 2025. Hasilnya? Belum bisa bikin surplus beras nasional, tapi cukup membuat warga tak lagi hanya mengandalkan obrolan warung sebagai aktivitas harian.

Jhoni, salah satu petani yang baru mengenal cangkul setelah ikut pelatihan kilat, mengaku senang walau panen cabai rawitnya belum bisa jadi bahan sambal satu RT. “Dulu nganggur, sekarang minimal ada kesibukan dan pelatihan. Kami jadi lebih percaya diri meski belum bisa ekspor,” ujarnya sambil memandangi kebun lengkeng yang baru tumbuh sepaha.

Berkat bimbingan intensif selama 30 hari dari TNI—yang biasanya lebih akrab dengan medan perang ketimbang ladang pete—masyarakat diajari mulai dari menyemai bibit hingga membedakan gulma dari tanaman sah. Progres pertanian mulai terlihat, meski kadang bedeng lebih mirip barak.

Baca Juga :


PERURI Tancap Gas! Digitalisasi Pertanian Garut dengan Teknologi IoT dan Smart Farming



Program ini diklaim bukan cuma soal cabai dan mangga, tapi soal mencangkul masa depan. Lapangan kerja terbuka, ekonomi desa berdenyut, dan warga mulai mengganti obrolan soal pinjol dengan diskusi harga pupuk.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi alias Kang Dedi, ikut menabur semangat lewat pidato khasnya. Ia menyentil generasi muda yang menganggap karier hanya ada di balik mesin pabrik. “Padahal tanah kita lebih subur dari CV, dan ayam bisa lebih produktif daripada ijazah,” katanya, mengingatkan bahwa keponakannya sukses berjualan bakso daripada mengejar status pegawai honorer.

Menurut Kang Dedi, masalah pengangguran di Jabar bisa diatasi jika masyarakat mau menanam, beternak, atau minimal menyiram. Ia bahkan menyebut ada kabupaten yang berhasil menurunkan kemiskinan hanya dengan program bagi-bagi ayam—sebuah metode yang terdengar sederhana tapi mengalahkan seminar-seminar bertema empowerment.

Inisiatif TNI membuka lahan pertanian ini dinilai sebagai bukti bahwa negara belum kehabisan akal. Dari pelatihan cangkul kilat hingga penggerak ekonomi desa, tentara kini bukan hanya siap perang, tapi juga siap panen.

Dengan catatan: selama masyarakat mau diajak tanam, bukan hanya duduk menunggu subsidi dan bansos. (Bhegin)

Editor: Bhegin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X