Kamis, 4 Juni 2026

Tersapu Ombak, Tanggung Jawab Tercecer: Maman dan Risiko Wisata Tanpa Perlindungan di Sayang Heulang

Photo Author
Bhegin, Locusonline.co
- Senin, 7 Juli 2025 | 09:39 WIB
Ganasnya Ombak Pantai Selatan Garut (foto Istimewa)
Ganasnya Ombak Pantai Selatan Garut (foto Istimewa)

LOCUSONLINE, GARUT - Sabtu sore 5 Juli 2025 di Pantai Sayang Heulang, Garut, seharusnya menjadi pelipur penat akhir pekan bagi Maman (42), warga Desa Cempaka Mulya, Cimaung, Kabupaten Bandung. Tapi sore itu berubah menjadi awal dari tragedi: lautan menggulung tubuhnya, dan sejak itu, Maman tak pernah muncul lagi ke permukaan.

Hingga laporan ini diturunkan, Tim SAR gabungan masih menyisir pesisir pantai dengan sekoci, pelampung, dan drone Basarnas yang menelusuri garis ombak dari udara. Namun, tubuh Maman belum ditemukan. Yang tersisa hanya jejak sendu di pasir dan keresahan di benak keluarga.

Menurut kesaksian sejumlah pengunjung, sekitar pukul 17.00 WIB, Maman dan rombongannya tengah bermain air di bibir pantai. Cuaca mendung, namun tak tampak tanda-tanda badai. Tanpa sadar, ia terperosok ke palung laut, arus menyeret cepat, dan dalam hitungan detik tubuhnya hilang dari pandangan.

"Sempat teriak minta tolong, tapi gelombang besar langsung menenggelamkan," ujar Asep, saksi mata yang juga wisatawan asal Tasikmalaya.

Petugas penjaga pantai tak terlihat di sekitar lokasi kejadian. Tidak ada pelampung evakuasi darurat di radius sekitar. Bahkan, papan peringatan pun kabarnya sudah pudar termakan waktu. Padahal, Sayang Heulang dikenal sebagai pantai berarus kuat dan tidak ramah untuk aktivitas berenang.

Sejak kejadian, pencarian langsung digerakkan. Tim dari Satpolairud Polres Garut, Basarnas, BPBD, relawan Balawista, serta elemen TNI diterjunkan. Menurut Iptu Aep Saprudin, Kepala Satpolairud Garut, dua regu disebar untuk menyisir sisi darat dan laut.

"Kami kerahkan drone Basarnas agar area pencarian bisa diperluas, karena medan laut cukup ekstrem," katanya.

Namun medan tak bersahabat. Ombak tinggi dan angin kencang menjadi tantangan serius. Bahkan drone hanya bisa beroperasi secara terbatas, menunggu celah di antara gelombang dan kabut laut.

Pola Lama, Tragedi Berulang

Sayang Heulang bukan kali pertama menjadi saksi bisu musibah laut. Hampir setiap tahun, korban tenggelam tercatat di pantai ini maupun di pantai sekitarnya seperti Santolo dan Rancabuaya.

“Ini bukan insiden pertama, tapi nyaris selalu dibiarkan begitu saja. Tidak ada penguatan sistem mitigasi wisata pantai,” kata Eko Hadi Nugroho, aktivis keselamatan wisata alam.

Menurut Eko, akar masalahnya sistemik. Di banyak lokasi wisata bahari, tidak ada standar operasional keamanan yang baku, tidak ada petugas bersertifikat, tidak ada papan informasi yang layak, apalagi pelatihan mitigasi bagi pengunjung.

Pemerintah Kabupaten Garut dalam beberapa pernyataan menyatakan keprihatinan. Namun belum ada kejelasan siapa yang bertanggung jawab atas keamanan wisatawan di pantai-pantai tersebut.

"Kalau pengelolaan diserahkan ke desa atau kelompok sadar wisata (Pokdarwis), maka perangkat daerah harus memberikan pelatihan dan dukungan anggaran," ujar Rina Farida, akademisi pariwisata dari Universitas Garut.

Tanpa sistem perlindungan yang kuat, wisata pantai seperti menjebak masyarakat ke dalam risiko yang tak terlihat—dengan janji keindahan alam yang menipu.

Di Cimaung, keluarga Maman menunggu dengan cemas. Istrinya, Rika, hanya bisa menangis menatap layar ponsel tiap ada kabar terbaru dari Garut.

“Kami cuma ingin Maman ditemukan, entah selamat atau tidak… yang penting bisa kami bawa pulang,” ucapnya, terbata.

Ironisnya, Maman bukan nelayan. Ia hanya warga biasa yang ingin berlibur. Tapi minimnya edukasi, nihilnya infrastruktur keselamatan, dan kelalaian sistem membuat nyawanya hilang di antara ombak.

Wisata bahari seharusnya menjadi kebanggaan Indonesia. Tapi tanpa perlindungan nyata dari negara, setiap gelombang bisa jadi peluru tak terlihat. Tragedi Maman di Sayang Heulang bukan hanya soal satu nyawa, tapi soal gagalnya negara menjaga warganya yang hanya ingin menikmati laut yang katanya milik bersama.

Jika tak ada perubahan nyata dalam sistem pengamanan wisata laut, maka berita seperti ini akan terus berulang. Hanya nama dan tanggal yang berbeda. (Bhegin)

Redaksi | Investigasi Pantai Selatan Jawa Barat
Jika Anda menyaksikan kejadian serupa atau memiliki informasi tambahan seputar keselamatan wisata laut di Garut dan sekitarnya, hubungi redaksi kami di email: [email protected]

Editor: Bhegin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X