Kamis, 4 Juni 2026

Silat Jadi Duta Besar, Negara Masih Duduk Silang

Photo Author
Bhegin, Locusonline.co
- Jumat, 11 Juli 2025 | 13:20 WIB
Foto istimewa
Foto istimewa

LOCUSONLONE, JAKARTA – Ketika diplomasi luar negeri buntu dan atletik kerap jadi alat politik, pemerintah kembali menggantung harapan pada jurus silat untuk mencitrakan kehebatan bangsa. Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga, Taufik Hidayat, resmi mendukung hajatan internasional bertajuk Kasundan International Silat Camp (KISC) 2025 — sebuah panggung silat berbalut budaya yang akan digelar di Garut, Jawa Barat, 1–8 Agustus mendatang. jumat, 11 Juli 2025

Alih-alih membenahi infrastruktur olahraga yang compang-camping dan pembinaan atlet yang tertatih, Kemenpora memilih jalan penuh makna: silat dijadikan juru bicara budaya bangsa.

"Ini bukan sekadar ajang latihan, ini diplomasi dalam bentuk tendangan dan sapuan," kata Wamenpora dengan penuh semangat, seolah semua masalah pemuda bisa ditangkal dengan kuda-kuda yang kuat.

KISC 2025 digadang-gadang sebagai ajang lintas negara untuk mengenalkan pencak silat dan budaya lokal ke panggung global. Praktisi dan penggemar silat dari berbagai belahan dunia dijadwalkan berkumpul di kaki gunung Garut, mengikuti pelatihan, pertunjukan seni, dan wisata budaya. Tema kegiatan? “Ulin, Ulik, Usik” — kombinasi antara bermain, menggali, dan mengusik — seakan menyindir betapa negara pun masih gemar bermain-main dengan agenda budaya.

Baca Juga :


-
KKN: Ketika Mahasiswa Jadi Solusi Imajiner untuk Masalah Nyata yang Tak Lagi Butuh Mereka



Cecep Arif Rahman, aktor laga yang kini menjelma jadi duta bela diri, menyampaikan rasa terima kasih atas restu pemerintah.

“Insya Allah kami siap. Ini bukan sekadar silat, ini diplomasi kaki dan tangan,” ujarnya.

Di sisi lain, anak didik Cecep, Dimas Tresna, menjabarkan filosofi acara dengan keyakinan,

“Kita ajak tamu asing untuk berwisata, berlatih, dan pentas. Kalau tidak kuat silatnya, minimal bisa selfie pakai ikat kepala,” tuturnya.

Dari balik meja kementerian, Sri Wahyuni selaku Deputi Pembudayaan Olahraga menilai acara ini sebagai peluang emas membungkus nasionalisme dalam balutan seni bela diri. “Ini bukan hanya mengasah teknik, tapi juga membudayakan silat sebagai simbol kekuatan bangsa. Bonusnya, anak muda bisa bergerak, meski belum tentu paham arah.”

KISC 2025 seolah jadi panggung alternatif ketika panggung prestasi sedang sunyi. Di tengah minimnya fasilitas dan pembinaan, silat kini bukan lagi sekadar olahraga — tapi alat propaganda lunak yang dijual manis dengan bumbu budaya. Bangsa belum tentu siap bertarung di ring dunia, tapi setidaknya kita bisa tetap menari di gelanggang diplomasi. (Bhegin)

Editor: Bhegin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X