LOCUSONLINE, GARUT – Dua pemuda dari Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, akhirnya resmi menjadi prajurit TNI AD. Bukan karena nilai akademik mentereng atau prestasi olahraga, tapi karena mereka punya “kartu sakti”—surat duka akibat ledakan munisi apkir yang menewaskan ayah mereka. Tragedi 12 Mei 2025 yang menghanguskan 13 nyawa kini berubah menjadi jalur afirmatif tak tertulis menuju barak militer. Jumat, 11 Juli 2025
Adalah Risky Agung Fauzy dan Sandi Wigusprayoga, dua nama yang dulu masuk daftar korban, kini naik pangkat jadi simbol kebangkitan. Risky masuk Infanteri, Sandi ke Peralatan. Bukan hanya mereka yang bangga, tapi juga negara, karena berhasil membranding luka sebagai “modal patriotisme”.
Dalam pengumuman kelulusan yang digelar di Kompleks Secaba Bihbul, Rabu (9/7/2025), suasana dibuat penuh haru. Para Babinsa hadir bukan untuk patroli, tapi untuk berfoto sambil tersenyum bersama dua anak bangsa yang sebelumnya nyaris kehilangan masa depan karena kelalaian logistik militer.
Baca Juga : Ketika Mahasiswa Harus Mengajari Birokrasi Cara Melayani: Garut ‘Outsourcing’ Solusi ke Kampus
Komandan Kodim 0611/Garut, Letkol Inf Andrik Fachrizal, menyebut kelulusan ini sebagai bukti “komitmen TNI merawat luka masyarakat”. Sayangnya, luka tersebut masih menganga dalam bentuk tanya: mengapa ledakan itu bisa terjadi, siapa yang bertanggung jawab, dan bagaimana nasib puluhan anak korban lainnya yang tak punya mimpi jadi tentara?
Pernyataan Kadispenad Brigjen TNI Wahyu Yudhayana dijadikan landasan moral rekrutmen: “Putra-putri korban tragedi dipersilakan daftar TNI.” Tak ada kuota khusus, tapi sejarah mencatat: tragedi bisa jadi jalur cepat, asal ditangani dengan narasi yang pas.
Media menyebutnya "gema haru dan kebanggaan". Tapi sebagian warga menyebutnya "kompensasi diam-diam". Negara memang tidak meminta maaf secara resmi atas ledakan itu, tapi memberi seragam loreng untuk anak-anak yang ditinggal ayahnya—seolah lencana bisa menggantikan pelukan terakhir yang hilang.
Kini, dua anak itu berdiri tegap dalam formasi. Mereka tak hanya mengusung nama keluarga, tapi juga beban simbolik: bahwa dari reruntuhan tragedi, tentara bisa lahir. Tak ada konferensi pers soal perbaikan sistem keamanan gudang amunisi, tapi ada liputan penuh tentang selebrasi kelulusan dua anak korban. Sungguh, dari luka menjadi lencana—dan dari tragedi, lahirlah narasi. (Suradi/Bhegin)