Kamis, 4 Juni 2026

Dagang Bebas, Pers Terikat? Ketika Konten Lokal Jadi Pesta Gratis Platform Global

Photo Author
Bhegin, Locusonline.co
- Kamis, 26 Februari 2026 | 15:41 WIB
Gamabar AI
Gamabar AI


"Di era ekonomi digital, yang dipertaruhkan juga adalah kedaulatan regulasi dan keberlanjutan industri informasi. Jika tidak cermat, yang bebas bisa jadi hanya platformnya sementara pers nasional justru terikat."





LOCUSONLINE, JAKARTA - Di tengah gegap gempita Perjanjian Perdagangan Indonesia-Amerika Serikat 2026, ada satu pasal yang membuat industri pers mengernyit, bukan karena kagum. Ketentuan dalam perjanjian tersebut dinilai berpotensi mempersempit ruang kebijakan Indonesia untuk melindungi perusahaan pers nasional, termasuk dalam hal menuntut kompensasi atas pemanfaatan konten jurnalistik oleh platform digital asal Amerika Serikat.





Klausul yang melarang kewajiban kompensasi kepada platform digital dipandang bertolak belakang dengan arah kebijakan nasional yang selama ini berupaya memperkuat keberlanjutan industri pers. Di satu sisi, negara mendorong kualitas jurnalisme dan keberlangsungan media. Di sisi lain, perjanjian dagang justru dinilai dapat membatasi instrumen regulasi yang dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem digital.





Melansir berita Kompas.id, Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Wahyu Dhyatmika, menilai ketentuan tersebut berpotensi melemahkan posisi tawar media nasional di hadapan platform global. Menurutnya, tanpa kewajiban kompensasi, hubungan antara perusahaan pers dan platform digital dapat semakin timpang secara ekonomi.






Baca Juga : Dari Aduan ke Algoritma: Kemenkum Jabar Belajar Main TikTok demi Zona Integritas






Ia menyoroti bahwa dalam lanskap digital saat ini, distribusi dan monetisasi konten banyak dikendalikan oleh perusahaan teknologi besar. Jika regulasi domestik tak lagi leluasa mengatur mekanisme kompensasi, maka kesenjangan antara platform global dan media Indonesia dikhawatirkan semakin melebar.





Kekhawatiran tersebut mengemuka di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, yang memanfaatkan data dan konten dalam skala masif. Tanpa payung kebijakan yang kuat, industri pers nasional dinilai berisiko kehilangan kendali atas nilai ekonomi karya jurnalistiknya sendiri.


Halaman:

Editor: Bhegin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X