BEIJING, Locusonline.co – Untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir, raksasa kendaraan listrik asal China, BYD, melaporkan penurunan laba tahunan. Kondisi ini menjadi sinyal kerasnya persaingan harga dan melemahnya permintaan di pasar domestik, yang bahkan mulai menggerus keuntungan produsen mobil listrik terbesar sekalipun.
Berdasarkan laporan Reuters, Jumat (27/3/2026), BYD membukukan laba bersih tahun 2025 sebesar 32,6 miliar yuan (sekitar Rp 73,3 triliun) , turun 19% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini jauh lebih dalam dari perkiraan analis yang memprediksi penurunan rata-rata 12,1%.
Penurunan ini terjadi setelah BYD menikmati tahun-tahun pertumbuhan yang pesat. Pendapatan perusahaan hanya tumbuh 3,5% , laju pertumbuhan terlemah dalam enam tahun terakhir. Sebagai indikasi efisiensi, BYD juga memangkas jumlah karyawannya sebesar 10,2% menjadi 869.622 orang pada akhir 2025.
Perang Harga dan Persaingan Teknologi yang Semakin Ketat
Laporan keuangan ini mencerminkan tekanan luar biasa yang dihadapi BYD di pasar dalam negeri China. "Kami juga menyadari bahwa persaingan di industri kendaraan energi baru (NEV) telah mencapai puncaknya dan sedang memasuki 'babak gugur' yang brutal," ujar Wang Chuanfu, Ketua BYD, dalam pernyataannya.
Beberapa faktor kunci yang menjadi pemicu penurunan kinerja BYD:
- Margin Tertekan: Marjin laba kotor dari bisnis otomotif dan produk terkait (yang menyumbang 80,7% pendapatan) menyusut menjadi 20,5% , turun 1,8 poin persentase dari tahun sebelumnya.
- Erosi Pangsa Pasar: BYD sempat menjadi produsen mobil terbesar di China pada 2025. Namun, pada periode Januari-Februari 2026, posisinya merosot ke peringkat keempat, dengan penjualan keseluruhan yang anjlok paling tajam sejak pandemi COVID-19.
- Kehilangan Keunggulan Teknologi: Rival seperti Leapmotor dan Geely mulai mengejar ketertinggalan teknologi, mengurangi daya saing unggulan BYD.
- Ketergantungan pada Segmen Harga Murah: Analisis Reuters menunjukkan mobil dengan harga di bawah 150.000 yuan (sekitar Rp 337 juta) menyumbang lebih dari 61% penjualan domestik BYD pada November 2025. Revisi subsidi yang lebih menguntungkan model dengan harga lebih tinggi turut berdampak pada bisnis inti BYD.
Kuartal Keempat yang Suram dan Prospek ke Depan
Tekanan tidak hanya terjadi secara tahunan. Pada kuartal keempat 2025, laba BYD merosot tajam 38,2% menjadi 9,3 miliar yuan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Ini adalah kuartal ketiga berturut-turut di mana laba perusahaan mengalami penurunan.
Analis dari Macquarie, Eugene Hsiao, menilai bahwa fokus pada peningkatan teknologi dan ekspansi penjualan luar negeri akan menjadi kunci untuk mendorong daya saing dibandingkan sekadar bersaing di harga.