Keduanya tak satu ruangan. Tapi publik seperti membaca dua bab dari buku yang sama: bab pertama tentang idealisme yang diabaikan, bab kedua tentang realitas utang yang menumpuk.
Jonan bertemu Prabowo selama dua jam durasi yang cukup untuk membahas masa depan bangsa, tapi katanya tak sepotong kata pun soal Whoosh.
“Enggak, enggak bahas kereta cepat. Enggak diminta masukan kok,” ujarnya, menutup mulut rapat-rapat seperti jendela gerbong di malam hujan.
Baca Juga : Purbaya: “Saya Baru Tahu, Menteri Keuangan Itu Lumayan Berkuasa”
Sebaliknya, ia bicara soal program-program kerakyatan: makan bergizi gratis, koperasi desa, dan diplomasi luar negeri.
Diskusi, katanya, “hanya itu saja, enggak ada yang lain.”
Barangkali memang benar. Tapi di luar sana, publik tahu: di negeri ini, “tidak membicarakan” justru sering berarti “sedang membicarakan dengan sangat serius.”
Bagi yang lupa, Jonan adalah orang pertama yang menolak proyek ini ketika menjabat Menteri Perhubungan. Ia menilai Jakarta–Bandung terlalu pendek untuk kereta cepat.