ragam

Prabowo: Utang Whoosh Biar Saya yang Bayar, Rakyat Cukup Naik dan Bersyukur

Rabu, 5 November 2025 | 09:32 WIB
Foto Ilustrasi Istimewa


"Whoosh bukan sekadar kereta cepat tapi juga ujian kesabaran fiskal. Kalau rakyat bisa sabar menunggu janji reformasi selama dua dekade, mungkin menunggu balik modal Whoosh bukan hal yang mustahil."





LOCUSONLIONE, JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto menegaskan agar rakyat tidak perlu ribut soal utang Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh). Menurutnya, proyek ini bukan sekadar kereta cepat, tapi simbol kecepatan bangsa menuju masa depan meski sementara ini yang melaju justru angka kerugiannya.





“Manfaatnya jelas, mengurangi macet, mengurangi polusi, mempercepat perjalanan. Jadi semua harus dihitung,” ujar Prabowo, Selasa (4/11/2025), di sela peresmian Stasiun Tanah Abang Baru.





Ia lalu menambahkan dengan gaya khasnya, “Dan ingat ya, ini simbol kerja sama kita dengan Tiongkok. Sudahlah, presiden Republik Indonesia sudah ambil alih tanggung jawab. Tidak usah ribut. Kita mampu. Kita kuat.”





Sontak publik teringat: ini mungkin pertama kalinya utang proyek triliunan rupiah dikategorikan sebagai simbol persahabatan internasional. Kalau nanti bunganya naik, mungkin akan disebut biaya diplomasi berbasis rel.





Masalahnya, simbol itu sedang berdarah-darah. Berdasarkan laporan keuangan PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) per 30 Juni 2025 (unaudited), entitas anak KAI yang menaungi proyek Whoosh mencatat kerugian Rp4,195 triliun sepanjang 2024. Artinya, dalam setahun, konsorsium BUMN merugi Rp11,49 miliar per hari angka yang cukup untuk membangun satu stasiun tiap pekan kalau dikelola rakyat biasa.





Tahun ini, luka itu belum sembuh. Hingga semester I-2025, PSBI kembali merugi Rp1,625 triliun.
Sebagai pemimpin konsorsium, KAI menanggung beban terbesar dengan porsi saham 58,53 persen. Sisanya dipegang Wika (33,36 persen), Jasa Marga (7,08 persen), dan PTPN VIII (1,03 persen) alias gotong royong rugi bersama.


Halaman:

Tags

Terkini