ragam

Uji Petik MBG di Garut: Dari Piring Kosong Menuju Regulasi ‘Semu’?

Selasa, 25 November 2025 | 10:30 WIB



Analisisnya tajam. Program MBG, sebagai kebijakan nasional, diharapkan seragam. Namun, Roudo mengakui bahwa tantangan di setiap daerah pasti berbeda. “Nanti dari hasil uji petik ini kita melihat dari masing-masing wilayah apa yang berbeda, apa yang perlu ditekankan, dan tantangan yang dihadapinya seperti apa, serta rekomendasi perbaikannya seperti apa,” tambahnya.





Inilah titik kritisnya. Kebijakan one-size-fits-all seringkali tersandung oleh kompleksitas kewilayahan. Mulai dari geografi, ketersediaan pangan lokal, kapasitas keuangan daerah, hingga kemampuan logistik. Akankah kajian ini mampu menghasilkan rekomendasi yang fleksibel dan konkret, atau hanya akan menjadi dokumen tebal lainnya yang mengisi rak arsip?





Misi 3 Hari: Mencari Jejak di Lapangan





-




Yang patut dicatat, kunjungan ini tidak berhenti di ruang rapat. Roudo menyebutkan bahwa tim Bappenas akan turun ke lapangan selama tiga hari (24-26 November 2025) untuk “menganalisis perkembangan riil dan memotret kondisi aktual.”





Inilah momen yang dinantikan. Investigasi lapangan inilah yang akan menentukan apakah laporan akhir nanti berisi data yang steril dan indah, atau berani menampilkan kenyataan pahit—jika ada—dari program MBG di Garut. Apakah porsi makanan cukup? Apakah gizinya terpenuhi? Apakah mekanisme distribusinya efektif? Atau jangan-jangan, ada celah kebocoran dan salah sasaran yang luput dari pantauan?





Tindak lanjut Bappenas, menurut Roudo, adalah menyelesaikan kajian, mendiseminasikan hasil, dan menyusun rekomendasi untuk penguatan kebijakan. Ia berharap kunjungan lapangan ini memberikan informasi yang diperlukan untuk “penyempurnaan kebijakan MBG di Kabupaten Garut.”





Sebuah Tantangan untuk Garut dan Pemerintah Pusat





Kunjungan BGN dan Bappenas ini bagai dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia adalah pengakuan bahwa Garut dianggap penting dalam peta ketahanan gizi nasional. Di sisi lain, ia adalah ujian publik terhadap komitmen nyata semua pihak.





Program MBG bukanlah sekadar angka anggaran atau laporan kuartalan. Ia berkaitan langsung dengan masa depan generasi penerus—dengan tingkat kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas mereka kelak. Masyarakat Garut, dan publik secara luas, berhak menanti lebih dari sekadar laporan uji petik. Mereka menunggu bukti bahwa program ini benar-benar bergizi, bukan hanya dari nama, tetapi juga dari hasilnya yang terukur di lapangan. Akankah kunjungan ini menjadi titik balik, atau hanya menjadi catatan kaki lain dalam sejarah panjang program-program yang gagal mencapai sasaran? Waktu dan aksi nyata yang akan menjawabnya. (suradi/**)


Halaman:

Tags

Terkini