ragam

Keamanan Digital atau Ilusi? Kisah Kakek 70 Tahun dan Rp71 Miliar yang 'Menguap' di Balik Layar Mirae Sekuritas

Sabtu, 29 November 2025 | 12:39 WIB



Transformasi Portofolio yang Mencurigakan: Dari Blue-Chip ke Aspek Tak Dikenal





Yang memperparah situasi, hasil investigasi sementara dari Mirae sendiri menyatakan tidak adanya indikasi peretasan server. Ini mengarah pada satu kesimpulan yang mencemaskan: akses ilegal dilakukan oleh pihak yang secara sah atau tidak, mengetahui informasi login nasabah.





Krisna mendeskripsikan bagaimana portofolio Irman yang sebelumnya diisi oleh emiten-emiten papan atas dan likuid seperti BBCA (Bank Central Asia), BBRI (Bank Rakyat Indonesia), TLKM (Telkom Indonesia), BMRI (Bank Mandiri), dan CDIA, tiba-tiba bertransformasi secara paksa.





“Saham-saham blue-chip yang stabil dan bernilai tinggi itu hilang. Digantikan dengan aset-aset yang sama sekali asing dan tidak diketahui oleh klien kami, seperti saham film dan NIYZ. Ini seperti menukar sekarung berlian dengan batu kali, namun dilakukan tanpa sepengetahuan pemiliknya,” jelas Krisna dengan nada frustrasi.





Somasi Diabaikan, Jalan Hukum Terpaksa Ditempuh





Upaya dialog dan resolusi damai telah diupayakan. Namun, menurut Krisna, respons Mirae Sekuritas dinilai lambat dan tidak memuaskan. Perusahaan hanya berjanji melakukan investigasi internal tanpa memberikan penjelasan substantif atau timeline yang jelas kepada korban.





Puncaknya, somasi resmi yang dikirimkan oleh kuasa hukum Irman tidak digubris sama sekali oleh Mirae Sekuritas. “Kenapa akhirnya kami laporkan? Karena kami somasi dan somasi kami tidak ada jawaban. Ini adalah bentuk pengabaian terhadap nasabah yang justru menjadi tulang punggung bisnis mereka,” tutur Krisna.





Implikasi dan Pertanyaan Kritis

Halaman:

Tags

Terkini