Menurut laporan media lokal dan pemerintah desa, banyak pelamar dari warga lokal telah mengirimkan lamaran selama 2023–2025, tetapi hingga sekarang tidak ada panggilan atau kabar lanjutan: lamaran “menumpuk di laci.” Keluhan ini sudah sampai ke instansi ketenagakerjaan pusat, dengan tudingan bahwa janji penyerapan tenaga kerja lokal cuma “slogan,” bukan realitas.
Selain itu, ada laporan dari organisasi masyarakat setempat bahwa komunikasi dengan perusahaan terkadang kurang baik — misalnya lembaga pemuda lokal menyampaikan kekecewaan karena perusahaan dianggap kurang responsif terhadap surat/respon resmi.
Situasi seperti ini menunjukkan bahwa meskipun ada rencana besar, implementasinya membutuhkan perhatian serius agar tidak menimbulkan kekecewaan, konflik sosial, atau ketidakpercayaan dari masyarakat sekitar.
Faktor Legal & Administratif
Sebagai perusahaan formal, Hoga terdaftar resmi — berarti secara hukum memiliki legitimasi untuk beroperasi.
Lokasi pabrik dan kantor perusahaan telah tercatat dengan jelas, sehingga mempermudah pemantauan reguler, pelaporan pajak, dan pengawasan ketenagakerjaan.
Keberadaan pabrik di wilayah semi-rural seperti Leles, serta komitmen “kantor pusat di Garut” — bukan di pusat kota besar — memberi keuntungan bagi pemerataan ekonomi di luar kota besar.
Namun langkah ekspansi besar seperti menyerap puluhan ribu pekerja menuntut perusahaan dan pemda untuk memastikan aspek kesejahteraan, infrastruktur, regulasi ketenagakerjaan, dan transparansi proses rekrutmen.
::
PT Hoga Reksa Garment saat ini berada di titik potensi besar — dengan rencana ekspansi 2025 yang bisa membawa dampak signifikan bagi masyarakat dan ekonomi Garut.
- Bila terealisasi, penyerapan 20.000 pekerja bisa jadi angin segar bagi banyak warga — terutama di bidang kerja padat karya.
- Namun, ada kekhawatiran nyata soal realitas rekrutmen: hingga pertengahan 2025, banyak warga lokal melaporkan lamaran yang “ngendon” tanpa kejelasan.
- Agar hasilnya optimal — dan kepercayaan masyarakat tidak terkikis — dibutuhkan upaya serius dari perusahaan dan pemerintah: transparansi rekrutmen, komunikasi baik dengan masyarakat setempat, serta pengawasan reguler terhadap komitmen sosial.
Dengan demikian, Hoga bisa menjadi contoh positif bagi pengembangan industri di daerah — asal komitmen kapital investasi dibarengi dengan komitmen etis terhadap pekerja dan masyarakat sekitar.