Memasuki 2025, Kota Bandung justru menambah daftar panjang perkara perceraian. Data Kepaniteraan Pengadilan Agama Kota Bandung mencatat 7.119 perkara sepanjang tahun. Dari jumlah itu, 6.642 pasangan resmi diputus berpisah oleh majelis hakim.
Rinciannya, 5.520 perkara merupakan cerai gugat dan 1.599 cerai talak. Penyebabnya didominasi faktor ekonomi sebanyak 1.839 kasus, pertengkaran berkepanjangan 3.459 kasus, serta ditinggalkan pasangan sebanyak 326 kasus. Di tengah naiknya harga kebutuhan pokok, tampaknya cinta memang tak selalu tahan inflasi.
Secara wilayah, Kecamatan Kiaracondong menjadi “juara umum” perceraian di Kota Bandung dengan 353 kasus sepanjang 2025. Disusul Babakan Ciparay (334), Batununggal (322), Coblong dan Ujungberung (masing-masing 319), serta Bandung Kulon (295).
Sementara kecamatan lain seperti Sukasari, Andir, Cicendo, hingga Arcamanik juga mencatat ratusan perkara. Hampir seluruh penjuru kota tampak ikut menyumbang angka, seolah perceraian telah menjadi fenomena kolektif, bukan lagi urusan personal semata.
Berikut sebagian data perkara perceraian di Kota Bandung tahun 2025:
Sukasari (168), Coblong (319), Babakan Ciparay (334), Bojongloa Kaler (266), Andir (209), Cicendo (209), Sukajadi (292), Cidadap (123), Bandung Wetan (54), Astana Anyar (149), Regol (192), Batununggal (322), Lengkong (131), Cibeunying Kidul (287), Bandung Kulon (295), Kiaracondong (353), Bojongloa Kidul (208), Cibeunying Kaler (193), Sumur Bandung (65), Antapani (203), Bandung Kidul (131), Buahbatu (263), Rancasari (215), Arcamanik (251), Cibiru (185), Ujungberung (319), Gedebage (126), Panyileukan (84), Cinambo (62), dan Mandalajati (196).
Lonjakan perceraian ini menjadi ironi di tengah berbagai program ketahanan keluarga yang rutin diumumkan pemerintah. Di atas kertas, keluarga disebut sebagai fondasi bangsa. Namun di lapangan, fondasi itu terus retak, sementara solusi masih berkutat di seminar dan spanduk sosialisasi.
Data ini sekaligus menjadi alarm bagi pemerintah daerah. Persoalan ekonomi, lapangan kerja, dan kesejahteraan tak lagi bisa dipandang sebagai isu statistik semata. Sebab, di balik setiap angka perceraian, ada rumah tangga yang runtuh dan negara yang kembali diuji, apakah benar hadir sebelum semuanya terlambat.*****