[Locusonline.co] Bandung – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengumumkan program strategis untuk mengatasi tantangan kesehatan mental anak dan remaja di era digital yang kian mengkhawatirkan. Dalam sebuah pernyataan tegas, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengaku "gelisah" dengan tekanan psikologis yang dihadapi generasi muda saat ini dan segera meluncurkan intervensi berbasis sekolah.
"Kita sedang gelisah. Anak-anak kita sedang menghadapi tekanan yang jauh lebih besar dibanding generasi sebelumnya," ungkap Farhan dalam acara Pembukaan Muskerwil II PW Pemudi Persis Jawa Barat, Minggu (8/2). Pernyataan ini menandai dimulainya pendekatan yang lebih proaktif dan sistematis terhadap isu yang selama ini seringkali terstigma.
Stres Kronis dan "Satu Kesalahan untuk Satu Dunia"
Farhan menjelaskan bahwa gangguan mental bukan peristiwa spontan, melainkan hasil dari akumulasi stres yang berkepanjangan yang dapat berkembang menjadi depresi dan pikiran bunuh diri. Ia menyoroti perubahan lanskap sosial yang dramatis.
“Jika dulu ejekan hanya terjadi di lingkungan sekolah, kini perundungan dapat menyebar luas melalui media sosial dan disaksikan publik secara masif. Sekarang satu kesalahan bisa ditertawakan satu dunia. Tekanan psikologisnya jauh lebih berat,” tegasnya.
Analisis ini menempatkan perundungan siber (cyberbullying) dan tekanan performa di ruang digital sebagai faktor risiko utama yang membedakan generasi saat ini dengan sebelumnya, menjadikan kesehatan mental sebagai isu kemanusiaan yang mendesak.
Program Intervensi Berbasis Sekolah: Psikolog, Guru BK, dan Asesmen Menyeluruh
Sebagai respons konkret, Pemkot Bandung sedang menyusun program yang akan menempatkan psikolog dan psikolog klinis langsung di sekolah-sekolah. Program ini dirancang untuk bekerja secara sinergis dengan guru Bimbingan Konseling (BK) guna membangun sistem pendeteksian dan pendampingan dini.
| Pilar Program | Komponen & Tujuan |
|---|---|
| Asesmen & Skrining | Melibatkan psikolog untuk melakukan penilaian awal guna mengidentifikasi siswa yang berisiko atau menunjukkan tanda-tanda gangguan psikologis. |
| Pendampingan & Konseling | Memberikan dukungan psikologis langsung oleh tenaga profesional (psikolog/psikolog klinis) dan guru BK bagi siswa yang membutuhkan. |
| Kapasitas Guru & Staf | Melatih guru BK dan guru lainnya untuk mengenali tanda-tanda distress pada siswa dan merujuk dengan tepat. |
| Kolaborasi dengan Orang Tua | Membangun komunikasi dan kerja sama dengan orang tua untuk penanganan yang holistik di sekolah dan rumah. |
Seruan kepada Orang Tua: "Jangan Anti Asesmen, Ini Bentuk Perlindungan"
Salah satu tantangan terbesar dalam program semacam ini adalah stigma. Farhan secara khusus menyampaikan imbauan penting kepada orang tua agar tidak tersinggung atau menolak jika anak mereka direkomendasikan untuk menjalani asesmen kesehatan mental.