Kamis, 4 Juni 2026

Tanggap Darurat Kesehatan Mental, Pemkot Bandung Turunkan Psikolog ke Sekolah

Photo Author
Admin Locus, Locusonline.co
- Senin, 9 Februari 2026 | 09:54 WIB



“Bukan berarti anak kita dianggap bermasalah. Justru ini bentuk kepedulian. Apa yang dialami anak-anak di luar rumah sering kali di luar jangkauan orang tua,” jelas Farhan.





Pernyataan ini berusaha mengubah paradigma: dari melihat asesmen sebagai "pelabelan negatif" menjadi "alat perlindungan dini". Tujuannya adalah agar anak yang sedang berjuang dapat segera mendapatkan dukungan profesional yang tepat sebelum kondisinya memburuk.





Literasi Digital Sebagai Vaksin Sosial





Selain intervensi klinis, Farhan menekankan bahwa pencegahan harus dimulai dari penguatan "literasi digital dan emosional". Program ini akan fokus pada:






  • Keterampilan Menyaring Informasi: Mengajarkan anak kritis terhadap konten di media sosial.




  • Ketangguhan Hadapi Cyberbullying: Memberikan bekal untuk menghadapi dan melaporkan perundungan daring.




  • Pengelolaan Jejak Digital (Digital Footprint): Memahami konsekuensi jangka panjang dari aktivitas online.




  • Regulasi Emosi di Ruang Digital: Mengelola perasaan akibat interaksi atau tekanan di media sosial.





Transformasi dari Responsif ke Preventif





Inisiatif Pemkot Bandung ini menandai pergeseran signifikan dalam kebijakan publik:






  1. Dari Stigma ke Ilmiah: Mengakui kesehatan mental sebagai isu kesehatan masyarakat yang sah dan memerlukan intervensi berbasis bukti.




  2. Dari Sekunder ke Primer: Berfokus pada pencegahan dan deteksi dini di sekolah—lingkungan utama anak selain rumah—alih-alih hanya menangani kasus yang sudah parah.




  3. Dari Sektoral ke Holistik: Mengintegrasikan pendekatan psikologis, pendidikan, dan literasi digital dalam satu kerangka kerja.




  4. Dari Instruksional ke Kolaboratif: Melibatkan orang tua sebagai mitra, bukan sekadar penerima informasi.





Tantangan ke depan adalah memastikan program ini memiliki dana yang memadai, tenaga profesional yang cukup, dan mekanisme berkelanjutan. Namun, pengakuan resmi akan "kegelisahan" ini dan komitmen untuk bertindak adalah langkah pertama yang sangat krusial. Jika berhasil, Bandung dapat menjadi model nasional dalam membangun "sistem kekebalan psikologis" bagi generasi muda di tengah gempuran era digital. (**)


Halaman:

Editor: Admin Locus

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X