ragam

Investor Asing Borong 869 Juta Saham BIPI, Harga Langsung Tancap Gas 13,33%

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:26 WIB



1. Bisnis Batu Bara Masih Jadi Andalan





Direktur Utama Astrindo Nusantara Infrastruktur, Raymond Anthony Gerungan, menegaskan bahwa mayoritas pendapatan perseroan saat ini masih berasal dari tambang Jembayan dengan produk batu bara.






"Apabila harga batu bara tahun depan masih berada di level saat ini, perkiraan saya mungkin tidak akan ada peningkatan atas pendapatan kami," kata Raymond dalam public expose, Senin (29/9/2025).






Pernyataan ini mengindikasikan bahwa BIPI masih sangat bergantung pada komoditas batu bara, sehingga volatilitas harga komoditas akan sangat mempengaruhi kinerja ke depan.





2. Proyek Waste-to-Energy (WtE)





Manajemen menegaskan komitmennya untuk masuk ke proyek waste-to-energy senilai US$300–350 juta. Proyek ini sebenarnya telah dijalani BIPI sejak lebih dari tiga tahun lalu, namun sempat tertunda karena banyaknya perubahan kebijakan di tingkat pemerintah pusat dan daerah.





3. Mini Pabrik LNG di Batam





BIPI juga tengah mengembangkan mini pabrik LNG. Saat ini, perseroan sedang membongkar pabrik tersebut dan memindahkannya dari Batam ke Jawa Timur. Proses ini telah berlangsung selama satu tahun dan ditargetkan dapat mulai melakukan penjualan mini LNG pada kuartal kedua 2026.





Mengapa Asing Memburu BIPI?





Aksi borong asing di tengah kinerja keuangan yang sedang tertekan menunjukkan bahwa investor asing mungkin melihat potensi jangka panjang dari proyek-proyek energi baru yang sedang digarap BIPI, terutama waste-to-energy dan mini LNG.





Proyek WtE senilai US$300–350 juta merupakan pasar yang menjanjikan di tengah krisis sampah perkotaan, sementara mini LNG menawarkan solusi energi bersih di daerah yang belum terjangkau pipa gas.





Meski demikian, investor tetap perlu mencermati risiko:

Halaman:

Tags

Terkini