ragam

Farhan Temukan “Bom Waktu” di Maleer, Minol, Sampah, hingga 27 Persen Rumah Tanpa Septic Tank

Rabu, 25 Februari 2026 | 17:37 WIB


[Locusonline.co] BANDUNG – Program Siskamling Siaga Bencana di Kelurahan Maleer, Kecamatan Batununggal, Selasa (24/2/2026), berubah menjadi ajang "bedah masalah" kota. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, tidak hanya berbicara soal kesiapsiagaan menghadapi bencana, tetapi justru menemukan sederet persoalan krusial yang menggerogoti kualitas hidup warga: dari peredaran minuman keras (minol) dan obat keras, sistem pengelolaan sampah yang belum optimal, hingga sanitasi yang masih memprihatinkan.





Maleer sendiri adalah kawasan yang pernah merasakan program normalisasi sungai melalui Citarum Harum sekitar lima tahun lalu. Kini, tantangannya bergeser. "Setelah normalisasi, yang paling penting itu pemberdayaan masyarakatnya. Jangan sampai infrastrukturnya sudah bagus, tapi persoalan sosialnya tertinggal," tegas Farhan.





Minol dan Obat Keras Mengancam Ketahanan Sosial





Salah satu temuan paling menonjol adalah kekhawatiran warga terhadap maraknya peredaran minuman beralkohol dan obat keras di kawasan Binong dan Maleer. Aktivitas ini dinilai cukup ramai dan berpotensi besar menimbulkan dampak sosial, mulai dari gangguan ketertiban hingga keretakan ketahanan keluarga.





Pemerintah Kota Bandung berjanji akan bergerak. Langkah pertama adalah melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap izin usaha dan legalitas barang yang dijual. Satpol PP akan dikerahkan untuk melakukan penertiban, baik melalui jalur hukum (yustisi) maupun non-yustisi jika ditemukan pelanggaran peraturan daerah.





“Dicek izinnya ada atau tidak. Barangnya legal atau ilegal. Kalau punya izin pun, apakah hanya menjual atau memperbolehkan minum di tempat? Itu izinnya berbeda,” jelas Farhan, menegaskan bahwa aturan main harus jelas dan ditegakkan.





Gaslah: 70-80 Kg Sampah per Hari, Tapi Ujian Terbesar di Ramadan





Di sektor lingkungan, Maleer sebenarnya punya cerita positif. Program Gaslah (petugas pengolah sampah kewilayahan) mulai menunjukkan hasil. Setiap petugas dilaporkan mampu mengolah 70 hingga 80 kilogram sampah per hari.





Namun, Farhan belum mau terburu-buru menyimpulkan program ini sukses 100 persen. Pasalnya, para petugas baru bekerja efektif sejak 1 Februari 2026. "Saya beri waktu sampai akhir Maret. Ujian terbesarnya akhir Ramadan. Timbulan sampah pasti naik, sementara petugas bisa saja mudik," katanya dengan nada realistis.


Halaman:

Tags

Terkini