Pemerintah kota secara bertahap menargetkan pengurangan sampah sekitar 40 ton per hari dari kontribusi Gaslah. Sementara itu, teknologi pengolahan lain seperti RDF (Refuse Derived Fuel) masih dalam tahap perbaikan akibat kendala teknis konstruksi.
Sayangnya, tidak semua RW di Maleer memiliki fasilitas pengolahan sampah organik. RW 7, misalnya, memiliki lahan namun belum dimanfaatkan secara optimal. Pemkot berencana mengubah lokasi tersebut menjadi Ruang Terbuka Hijau Biru (RTHB) publik.
Sanitasi: 27 Persen Rumah Belum Miliki Septic Tank Layak
Persoalan paling mendasar dan tersembunyi adalah sanitasi. Data Pemkot Bandung mencatat sekitar 27 persen rumah di kota ini belum memiliki septic tank yang layak. Angka ini dinilai cukup besar dan berpotensi lebih tinggi jika dilakukan pengecekan langsung di lapangan.
Pemerintah sebenarnya telah membangun septic tank komunal dan biotank. Namun, kendala klasik muncul: biaya sambungan pipa dari rumah warga ke fasilitas tersebut masih harus ditanggung secara mandiri, dengan nominal mencapai Rp5 juta per rumah.
Farhan mengakui skema ini masih memberatkan warga, terutama yang kurang mampu. Karena itu, Pemkot menargetkan pada tahun 2027 dapat merancang teknologi sanitasi yang lebih murah dan tepat guna.
"Jangan sampai persoalan sanitasi ini dibiarkan dan akhirnya jadi masalah lingkungan yang lebih besar," ujarnya, mengingatkan bahwa kesehatan lingkungan adalah fondasi dari kualitas hidup masyarakat.
Kesimpulan: Maleer Jadi Cermin Masalah Kota
Kunjungan Siskamling Siaga Bencana di Maleer menjadi cermin bagi kompleksitas masalah perkotaan. Bukan hanya soal sungai meluap atau tanah longsor, tetapi juga peredaran minuman ilegal yang menggerogoti moral, gunungan sampah yang tak terkelola, dan limbah tinja yang mencemari lingkungan.
Pemerintah Kota Bandung kini memiliki peta jalan yang lebih jelas: menertibkan peredaran minol, mengawal program Gaslah hingga benar-benar matang, dan mencari solusi sanitasi yang tidak membebani warga. Bagi warga Maleer, mereka tak hanya ingin lingkungannya aman dari bencana, tetapi juga layak huni dari segala aspek. (**)