ragam

Tragedi Leuwigajah 21 Tahun Silam: Monumen Kujang Kaca dan Botol Plastik Akan Abadikan 157 Nama Korban

Sabtu, 28 Februari 2026 | 07:07 WIB


[Locusonline.co] CIMAHI – Dua dekade lebih berlalu, luka itu tak pernah benar-benar sembuh. Pemerintah Kota Cimahi akhirnya memastikan pembangunan Monumen Peringatan Tragedi Longsor Sampah TPA Leuwigajah yang merenggut 157 jiwa pada 21 Februari 2005 silam. Monumen ini bukan sekadar tugu batu, melainkan sebuah ruang renungan yang menggabungkan unsur sejarah, ekologi, dan kearifan lokal.





Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, mengungkapkan bahwa desain monumen telah rampung dipilih melalui sayembara pada akhir tahun 2025. Kini, tinggal menunggu kepastian anggaran untuk merealisasikannya.





"Untuk tragedi longsor sampah tahun kemarin sudah ada gambarnya, tinggal penganggaran dan kapan kita akan mulai untuk memperingati para korban yang tertimbun tanah longsor," ujar Ngatiyana, Jumat (27/2/2026).





Desain Simbolis: Kujang 9 Meter dan Dinding Kaca Berisi Nama Korban





Monumen ini dirancang tidak hanya indah, tetapi sarat makna. Bentuknya meruncing setinggi 9 meter menyerupai kujang, senjata tradisional Sunda, yang menjadi simbol keteguhan dan semangat bangkit masyarakat pascabencana.





Bagian utama monumen berupa dinding kaca transparan yang kuat dan tahan lama. Di dinding itulah akan digrafir dengan jelas nama-nama 157 korban yang tertimbun longsor sampah, serta visi dan misi daerah sebagai pengingat generasi mendatang.





Sampah Jadi Elemen Monumen: Plastik MLP dan Botol Kaca





Yang paling menarik, monumen ini akan memanfaatkan sampah sebagai elemen utama. Konsep ini dipilih untuk membangun kesadaran kolektif akan bencana ekologis yang dipicu oleh kelalaian mengelola sampah.






  • Sampah plastik multilayer (MLP) yang memiliki nilai ekonomi rendah akan dijadikan bagian dari struktur monumen. Plastik jenis ini terurai sangat lama, hingga puluhan tahun, sehingga menjadi pengingat abadi akan bahaya sampah.




  • Susunan botol kaca akan dibentuk menyerupai berbagai motif dan pola khas daerah, menambah nilai estetika sekaligus pesan daur ulang.





Menurut Ngatiyana, monumen ini dirancang sebagai "ruang transformasi kesadaran." Dari sekadar mengenang tragedi, pengunjung diharapkan pulang dengan komitmen baru terhadap tanggung jawab ekologis.


Halaman:

Tags

Terkini