Terintegrasi dengan Kampung Adat Cireundeu: Lebih dari Sekadar Monumen
Monumen ini tidak berdiri sendiri. Ia akan menjadi satu kesatuan kawasan dengan Kampung Adat Cireundeu, sebuah perkampungan adat Sunda yang masih memegang teguh tradisi. Integrasi ini dirancang untuk menciptakan:
| Fungsi | Deskripsi |
|---|---|
| Ruang Pembelajaran Budaya | Pengunjung bisa belajar tentang kearifan lokal dan adat Sunda |
| Penghubung Kawasan | Jalur yang menghubungkan monumen dengan Kampung Adat |
| Pengembangan UMKM | Sentra ekonomi berbasis kearifan lokal untuk warga sekitar |
| Plaza Edukasi | Papan informasi tentang desa adat, kebudayaan, dan sejarah longsor |
| Amfiteater & Plaza | Ruang publik untuk berkumpul dan refleksi |
"Kita abadikan agar Kampung Adat Cireundeu juga mengingat saudara-saudaranya yang menjadi korban. Mudah-mudahan tahun ini ada anggarannya, kalau tidak ada tahun depan," harap Ngatiyana.
Sayembara Desain Libatkan Juri Independen dan Tokoh Adat
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi, Chanifah Listyarini, menjelaskan bahwa desain monumen ini merupakan hasil sayembara yang melibatkan juri independen dan tokoh Kampung Adat Cireundeu. Proses penilaian berlangsung transparan dan partisipatif.
"Jadi desain monumen itu hasil sayembara yang kita laksanakan. Jadi memang menggunakan barang bekas dan lain sebagainya," katanya.
Saat ini, pihaknya masih menunggu hasil akhir dari Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Cimahi terkait kesiapan anggaran. Kebutuhan lahan untuk pembangunan monumen diperkirakan mencapai 1 hektare.
"Kurang lebih membutuhkan lahan di 1 hektare. Jadi itu kawasan lengkap, ada amfiteater, UMKM. Jadi bentuknya tidak hanya monumen saja," terang Chanifah.
Menghormati yang Telah Pergi, Mengingatkan yang Masih Hidup
Dua puluh satu tahun lalu, longsor sampah di Leuwigajah menjadi tragedi kemanusiaan dan lingkungan terburuk di Indonesia. Ratusan jiwa melayang, dan peristiwa itu menjadi titik balik kesadaran pengelolaan sampah di berbagai daerah.
Monumen peringatan ini diharapkan menjadi pengingat abadi bahwa sampah bukan sekadar benda buangan, tetapi bisa menjadi pembunuh jika dikelola secara salah. Lebih dari itu, monumen ini adalah penghormatan bagi 157 jiwa yang tak sempat selamat, dan sebuah ikrar bahwa tragedi serupa tak boleh terulang lagi. (**)