Fiandy A Putra (33) yakin ayahnya, Ermanto Usman (65), bukan korban perampokan biasa. Ada kejanggalan di TKP: lantai dua steril, dokumen penting aman, tapi dua kunci mobil raib. Sang ayah dikenal vokal sebagai aktivis antikorupsi di sektor pelabuhan.
[Locusonline.co] BEKASI – Suasana duka masih menyelimuti keluarga Ermanto Usman (65) dan Pasmilawati (60) yang menjadi korban kekerasan sadis di rumah mereka, Perumahan Prima Lingkar Asri, Kelurahan Jatibening, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi, pada Senin (2/3/2026) dini hari. Ermanto tewas di tempat, sementara istrinya kritis dan masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Namun di balik duka, keluarga menyimpan kegelisahan besar. Mereka tidak percaya peristiwa ini sekadar perampokan biasa. Sang putra sulung, Fiandy A Putra (33), dengan lantang meminta keadilan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.
"Kami dari keluarga memohon keadilan kepada Bapak Presiden, semoga kasus ayahanda kami bisa terungkap siapa pelakunya. Karena menurut kami ini lebih mengarah kepada kasus pembunuhan," ungkap Putra kepada awak media, Selasa (3/3/2026).
Aktivis Pelabuhan yang Vokal: Bongkar Korupsi JICT Rp4,08 Triliun
Siapa sebenarnya Ermanto Usman? Ia bukan warga biasa. Ermanto adalah pensiunan PT Jakarta International Container Terminal (JICT) , anak perusahaan Pelindo, yang telah purnatugas sejak sembilan tahun lalu .
Semasa aktif, ia dikenal sebagai aktivis serikat pekerja yang vokal. Bahkan hingga pensiun, Ermanto menjabat sebagai Ketua Paguyuban Pensiunan JICT dan aktif membuat konten podcast serta kanal YouTube untuk mengkritisi pengelolaan pelabuhan nasional .
Yang lebih mencengangkan, Ermanto belakangan ini gencar menyuarakan dugaan korupsi dalam kerja sama JICT dengan Hutchison Port Holdings (Hong Kong). Ia merujuk pada audit investigasi BPK tahun 2018 yang menyatakan adanya kerugian negara sebesar Rp4,08 triliun .