ragam

Dari Titik ke Ayat Suci, Perjuangan Pekerja Percetakan Al-Qur’an Braille

Minggu, 8 Maret 2026 | 08:08 WIB


[Locusonline.co] BANDUNG – Di balik setiap jilid Al-Qur'an Braille yang dibaca oleh penyandang disabilitas netra, ada cerita panjang tentang ketelitian, kesabaran, dan dedikasi para pekerja percetakan. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang memastikan bahwa kalam ilahi dapat diakses oleh semua, tanpa terkecuali.





Salah satunya adalah Sutiadi, seorang translator dan pekerja percetakan Braille yang telah mengabdikan dirinya selama tiga tahun terakhir. Ia sebelumnya bertugas di Sentra Abiyoso Cimahi, sebelum akhirnya dipindahkan bersama tim produksi ke lokasi percetakan yang baru.





"Dulu saya di Abiyoso, tapi produksinya dipindahkan ke sini bersama orang-orangnya," kata Sutiadi.





Proses Produksi: Dari Master Resmi Hingga Cetak Sempurna





Sutiadi menjelaskan bahwa pencetakan Al-Qur'an Braille berpedoman pada master resmi dari Kementerian Agama. Dengan adanya master ini, proses produksi menjadi lebih terarah: tinggal mencetak, menggandakan, hingga menjilid buku.





Untuk buku-buku Braille umum, seorang pekerja rata-rata mampu mencetak sekitar 30 buku dalam sehari. Namun, untuk Al-Qur'an Braille, tantangannya jauh lebih besar.





Dalam satu tahun, percetakan ini memproduksi sekitar 50 set Al-Qur'an Braille. Setiap set terdiri dari 30 jilid (satu jilid per juz). Artinya, total produksi mencapai sekitar 1.500 buku per tahun.





"Kalau Al-Qur'an Braille tidak mungkin jadi satu buku. Satu juz itu satu buku, jadi satu setnya ada 30 buku dan biasanya sampai dua dus besar," jelasnya.


Halaman:

Tags

Terkini