"Kalau ada simbol hukum bacaan yang perlu ditambahkan atau disesuaikan, itu diperbarui supaya benar-benar sesuai dengan Al-Qur'an yang sebenarnya," pungkasnya.
Distribusi ke Seluruh Penjuru Negeri
Al-Qur'an Braille yang diproduksi di percetakan ini tidak hanya untuk kebutuhan lokal. Mereka didistribusikan ke seluruh wilayah Indonesia, dari barat hingga timur. Permintaan datang dari berbagai organisasi penyandang disabilitas netra di tanah air.
Selain Al-Qur'an, percetakan ini juga memproduksi kitab suci lain dalam format Braille, seperti Injil. Jumlah produksi menyesuaikan kebutuhan setiap tahun.
"Kalau tahun lalu Al-Qur'an 70 set, Injil hanya tiga set. Tahun ini Al-Qur'an 50 set, tapi Injilnya 20 set," ujar Sutiadi.
Mesin dari Norwegia, Tenaga dari Hati
Untuk mendukung produksi, percetakan ini memiliki lebih dari 10 mesin cetak Braille yang sebagian besar berasal dari Norwegia. Di bagian percetakan, sekitar 10 pekerja terlibat langsung dalam produksi buku-buku Braille.
Mereka bekerja bukan hanya dengan mesin, tetapi juga dengan hati. Setiap jilid Al-Qur'an yang dihasilkan adalah buah dari ketekunan dan keikhlasan.
Al-Qur'an Braille tidak hadir begitu saja. Ia lahir dari proses panjang yang melibatkan keahlian, kesabaran, dan cinta. Di balik setiap titik timbul yang diraba oleh jemari para penyandang disabilitas netra, ada tim pekerja yang memastikan bahwa firman Tuhan sampai dengan utuh.