ragam

Dari Titik ke Ayat Suci, Perjuangan Pekerja Percetakan Al-Qur’an Braille

Minggu, 8 Maret 2026 | 08:08 WIB



Tantangan Teknis: Titik yang Hilang atau Berlebih





Meski prosesnya tampak sederhana, tantangan teknis selalu mengintai. Mesin cetak Braille tidak selalu sempurna. Kadang, titik-titik yang tercetak tidak sesuai dengan yang diinginkan.





"Kadang di layar sudah benar, tapi pas dicetak titiknya hilang satu atau kelebihan. Kalau begitu harus dicek lagi dan diperbaiki," ungkap Sutiadi.





Ketelitian tingkat tinggi menjadi tuntutan mutlak. Sebab, satu titik yang salah bisa mengubah arti huruf, bahkan makna ayat.





Editor: Penjaga Terakhir Sebelum Cetak





Sebelum buku dicetak massal, ada satu tahap krusial yang tidak boleh dilewatkan: proses pengeditan master naskah. Tugas ini dipegang oleh Hendra Kusumah, yang telah menjadi editor sejak 2017.





"Tugas saya memastikan master buku sudah benar sebelum dicetak," kata Hendra.





Menurutnya, mengedit tidak sama dengan membaca biasa. Jika membaca adalah aktivitas yang mengalir, mengedit adalah aktivitas yang sengaja diperlambat. Setiap detail harus diperiksa: huruf, tanda baca, titik, koma, hingga struktur kalimat.





"Kalau membaca biasa kan kita hanya membaca. Tapi kalau mengedit kita harus memperlambat membaca, memperhatikan koma, titik, huruf besar semuanya harus tepat," jelasnya.





Untuk Al-Qur'an Braille, proses pengeditan bisa memakan waktu bertahun-tahun jika harus memeriksa 30 juz dari awal. Namun saat ini, master sudah tersedia, sehingga prosesnya lebih banyak pada pembaruan berkala.

Halaman:

Tags

Terkini