ragam

Harga Minyak Dunia Naik, Rupiah Terengah, dan APBN Ikut Berkeringat

Selasa, 10 Maret 2026 | 13:11 WIB
Gambar Ilustrasi AI


LOCUSONLINE, JAKARTA - Ketika harga minyak dunia melompat seperti sedang ikut lomba lari dan dolar Amerika Serikat makin perkasa di pasar global, pemerintah Indonesia diminta tidak sekadar menonton grafik naik turun di layar monitor. Anggota Komisi VI DPR RI, Muhammad Sarmuji, mengingatkan bahwa lonjakan tersebut bisa berubah menjadi sakit kepala serius bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.





Menurut Sarmuji, harga minyak yang sudah menembus angka 100 dolar AS per barel bukan sekadar kabar dari bursa energi internasional. Angka itu, kata dia, punya potensi menambah beban subsidi energi yang harus ditanggung negara.





Pernyataan tersebut disampaikan di Jakarta pada Selasa, menyusul gejolak pasar energi yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik antara Amerika Serikat dan Israel di satu sisi dengan Iran di sisi lain disebut menjadi pemantik utama lonjakan harga minyak global sejak awal pekan ini.





Bersamaan dengan itu, tekanan eksternal juga terasa melalui penguatan dolar AS di pasar keuangan internasional. Dampaknya langsung terlihat pada nilai tukar rupiah yang sempat menembus kisaran Rp17.000 per dolar AS pada perdagangan awal pekan.





Dalam kondisi seperti ini, Sarmuji menilai pemerintah tidak punya banyak waktu untuk bersantai. Ia meminta Kementerian Keuangan Republik Indonesia segera menyiapkan berbagai simulasi kebijakan fiskal untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk jika tekanan global berlanjut.





Menurutnya, penguatan dolar tidak hanya memengaruhi nilai tukar semata. Kurs yang menguat juga membuat beban utang luar negeri Indonesia otomatis membengkak ketika dihitung dalam rupiah.





Artinya sederhana dimana kewajiban pembayaran pemerintah akan terasa lebih berat meskipun nilai utangnya tidak berubah.


Halaman:

Terkini