ragam

Diplomasi Selat Hormuz: Ultimatum Berbalut Politik yang Getir

Rabu, 11 Maret 2026 | 12:30 WIB
Gambar Ilustrasi AI



Padahal secara normal, sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melintas melalui selat ini. Selain minyak mentah, jalur yang sama juga menjadi lintasan penting bagi pengiriman gas alam cair dan berbagai komoditas strategis lainnya.





Ketika arteri energi dunia tersendat, pasar bereaksi cepat. Harga minyak melonjak hingga melampaui 100 dolar AS per barel. Lonjakan itu bukan hanya dipicu oleh penutupan Selat Hormuz, tetapi juga oleh gangguan produksi minyak di kawasan Timur Tengah yang ikut terdampak konflik.





Di sisi lain, Washington tidak tinggal diam. Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran. Ia menyatakan bahwa negaranya siap menyerang Iran dengan kekuatan “puluhan kali lebih besar” jika blokade terhadap jalur minyak tersebut terus berlanjut.





Namun Teheran tampaknya belum berniat mundur. Juru bicara IRGC, Ali Mohammad Naini, menegaskan bahwa militer Iran tidak akan membiarkan satu tetes pun minyak dari kawasan itu mengalir ke negara-negara yang dianggap sebagai musuh atau sekutu mereka selama perang masih berlangsung.





Ia menyebut setiap kemungkinan perubahan kebijakan sepenuhnya bergantung pada dinamika konflik yang sedang berjalan.





Dengan posisi seperti itu, Selat Hormuz kini bukan sekadar jalur laut strategis, melainkan panggung baru bagi perang saraf global. Satu pihak menekan dengan sanksi dan ancaman militer, sementara pihak lain membalas dengan menutup keran energi dunia.





Di tengah tarik-menarik kekuatan tersebut, kapal-kapal dagang hanya bisa menunggu sementara dunia kembali diingatkan bahwa stabilitas ekonomi global sering kali bergantung pada sepotong selat yang lebarnya bahkan tidak sampai puluhan kilometer.*****


Halaman:

Tags

Terkini