Kamis, 4 Juni 2026

Diplomasi Selat Hormuz: Ultimatum Berbalut Politik yang Getir

Photo Author
Bhegin, Locusonline.co
- Rabu, 11 Maret 2026 | 12:30 WIB
Gambar Ilustrasi AI
Gambar Ilustrasi AI


LOCUSONLINE, GARUT - Di tengah asap konflik yang belum juga reda, Iran memutuskan memainkan kartu lama yang selalu membuat pasar energi dunia gelisah dengan menutup Selat Hormuz. Jalur laut yang selama ini menjadi arteri utama perdagangan minyak global itu tiba-tiba berubah fungsi dari jalur dagang menjadi alat tawar politik setelah serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.





Namun penutupan itu tidak sepenuhnya bersifat mutlak. Teheran tampaknya masih membuka pintu meski dengan syarat yang terasa lebih seperti ultimatum diplomatik daripada sekadar aturan pelayaran.





Melalui pernyataan resmi yang disiarkan televisi pemerintah Islamic Republic of Iran Broadcasting, pasukan elit Islamic Revolutionary Guard Corps mengumumkan bahwa negara-negara yang ingin melintasi Selat Hormuz dapat melakukannya tanpa hambatan. Syaratnya cukup sederhana, meski konsekuensinya tidak ringan, mengusir duta besar Amerika Serikat dan Israel dari wilayah mereka.





Pernyataan yang diumumkan Senin malam itu menyebut bahwa negara Arab maupun Eropa yang bersedia mengambil langkah tersebut akan mendapatkan “kebebasan penuh” untuk melintasi selat strategis itu mulai hari berikutnya. Dengan kata lain, akses jalur minyak global kini dipagari dengan syarat politik yang cukup tajam.





Penutupan Selat Hormuz sendiri terjadi setelah serangan udara besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut memicu respons militer dari Teheran yang membalas dengan gelombang rudal dan drone ke sejumlah target di Israel serta negara-negara Teluk yang menampung instalasi militer Amerika Serikat.





Sejak konflik itu pecah, aktivitas pelayaran di selat yang menjadi jalur vital energi dunia itu nyaris berhenti. Kapal-kapal tanker yang biasanya lalu-lalang membawa minyak kini memilih menunggu di perairan yang lebih aman, sementara perusahaan pelayaran menimbang ulang risiko yang semakin tinggi.





Dampaknya langsung terasa pada data pelayaran global. Perusahaan analisis energi Kpler mencatat lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz anjlok hingga sekitar 90 persen hanya dalam waktu satu pekan. Penurunan tajam itu menunjukkan betapa sensitifnya jalur laut sempit tersebut terhadap setiap percikan konflik di kawasan.


Halaman:

Editor: Bhegin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X