Namun, drama belum usai. Amir membalas dengan gaya yang tak kalah satir mengungkit kegagalan Hasbi dalam pemilihan legislatif DPR RI, serta menyebut kemenangan Pilkada bukan semata hasil kerja pribadi, melainkan juga faktor keluarga politik.
“Harus diingat, kemenangan itu ada faktor JB (Mulyadi Jayabaya) dan saya,” sindirnya, membuka babak baru dalam sinetron politik daerah bertema “keluarga, kekuasaan, dan kenangan lama”.
Menanggapi polemik tersebut, Hasbi membantah telah menyindir wakilnya. Ia justru menyebut pernyataannya sebagai bentuk apresiasi sebuah interpretasi yang seperti biasa sangat bergantung pada siapa yang mendengar.
Menurut Hasbi, Amir pernah mendapat penghargaan sebagai mantan warga binaan yang berprestasi. Maka, penyebutan status tersebut dianggapnya sebagai pengakuan, bukan serangan.
Namun di lapangan, tafsir apresiasi ini tampaknya kalah cepat dari reaksi emosional yang lebih dulu menyala.
Sebagai pengingat, Amir Hamzah pernah terjerat kasus suap kepada mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar dalam sengketa Pilkada Lebak 2013. Ia dijatuhi hukuman 3,5 tahun penjara pada 2015
Fakta ini, meski sudah menjadi bagian masa lalu hukum, tampaknya masih menjadi “amunisi politik” yang siap digunakan kapan saja terutama saat mikrofon masih menyala.
Di tengah capaian pembangunan yang diklaim berjalan baik, konflik terbuka antara kepala daerah dan wakilnya justru menjadi ironi tersendiri. Koordinasi pemerintahan yang seharusnya solid, malah tersandung komunikasi yang “terlalu jujur di tempat yang salah”.