ragam

Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.104, Investor "Wait and See" Jelang Inflasi AS

Jumat, 10 April 2026 | 18:18 WIB


[Locusonline.co] Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (10/4/2026) ditutup melemah tipis di tengah sikap hati-hati (wait and see) pelaku pasar menjelang rilis data inflasi utama Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda tergelincir 14 poin atau 0,08 persen ke level Rp17.104 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.090 per dolar AS.





Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, menjelaskan bahwa meskipun sempat menguat di awal sesi, tekanan eksternal masih mendominasi pergerakan rupiah.





"Meskipun sempat terapresiasi ke level Rp17.083 pada awal sesi, tekanan eksternal masih mendominasi, terutama akibat penguatan dolar AS menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat," katanya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.





Sementara itu, kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga ikut tertekan, melemah dari Rp17.082 menjadi Rp17.112 per dolar AS.





Dua Sentimen Utama yang Menekan Rupiah





Amru mengidentifikasi setidaknya dua sentimen utama yang menyebabkan dolar AS menguat dan menekan nilai tukar rupiah:





1. Ekspektasi Kebijakan Moneter AS yang Lebih Ketat





Pasar saat ini sedang menantikan rilis data Consumer Price Index (CPI) AS yang akan dirilis malam ini. Para ekonom memperkirakan data inflasi tersebut akan meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Jika prediksi ini terbukti, maka akan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan atau bahkan memperketat kebijakan moneternya.





Suku bunga tinggi yang berkepanjangan di AS membuat dolar menjadi aset yang lebih menarik bagi investor global, sehingga modal asing cenderung keluar dari negara berkembang seperti Indonesia.


Halaman:

Tags

Terkini