Kamis, 4 Juni 2026

Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.104, Investor "Wait and See" Jelang Inflasi AS

Photo Author
Admin Locus, Locusonline.co
- Jumat, 10 April 2026 | 18:18 WIB



2. Ketegangan Geopolitik Timur Tengah





Konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah turut menambah sentimen negatif. Eskalasi ketegangan dan potensi gangguan distribusi energi global mendorong investor untuk berlindung ke aset-aset aman (safe haven), terutama dolar AS dan emas.





"Ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta potensi gangguan distribusi energi global turut meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, yang turut memberikan tekanan pada rupiah," jelas Amru.





Sentimen Domestik: BI Hadir dengan Intervensi





Meskipun berada di bawah tekanan, pelemahan rupiah relatif terjaga dan tidak mengalami gejolak ekstrem. Hal ini tidak lepas dari intervensi aktif Bank Indonesia (BI) di pasar. BI disebut sebagai penopang utama stabilitas rupiah di tengah badai eksternal.





Amru menjelaskan bahwa BI mengoptimalkan berbagai instrumen untuk menstabilkan nilai tukar:






  • Intervensi di pasar spot (jual beli valas langsung)




  • Intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) domestik untuk mengelola ekspektasi




  • Kesiapan membeli obligasi pemerintah (SBN) di pasar sekunder untuk menjaga imbal hasil





"Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti menegaskan stabilisasi rupiah menjadi prioritas, dengan langkah intervensi di pasar spot dan NDF, serta kesiapan membeli obligasi pemerintah di pasar sekunder," kata Amru.





Selain itu, Gubernur BI Perry Warjiyo juga telah menyampaikan komitmen serupa di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Bank sentral berjanji akan secara konsisten menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar domestik dan offshore.





SentimenDampak pada Rupiah
Ekspektasi Inflasi AS TinggiDolar menguat (Tekanan Rupiah)
Konflik Timur TengahLonjakan Safe Haven (Tekanan Rupiah)
Intervensi Aktif BIStabilitas Terjaga (Menahan Pelemahan)




Pelemahan rupiah yang terjadi hari ini bersifat teknis dan terbatas, didorong oleh sentimen global yang kuat. Investor memilih bersikap wait and see menjelang data inflasi AS yang akan menjadi penentu arah kebijakan The Fed. Jika inflasi AS lebih tinggi dari perkiraan, dolar berpotensi menguat lebih lanjut.





Namun, kabar baiknya, Bank Indonesia tetap sigap. Intervensi yang dilakukan oleh BI menjadi "tameng" yang efektif untuk memastikan rupiah tidak mengalami depresiasi yang terlalu tajam, sehingga stabilitas makroekonomi domestik tetap terjaga. (**)

Halaman:

Editor: Admin Locus

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X