Namun bagian paling menarik dalam konferensi itu muncul ketika pembicaraan beralih ke dunia digital. Para pembicara mengakui bahwa media sosial kini menjadi “garis depan” baru dalam pertarungan ideologi.
Profesor Madya Vu Van Phuc, mantan Pemimpin Redaksi Majalah Komunis Vietnam, mengatakan pemerintah perlu membangun ekosistem ideologi digital dengan memanfaatkan teknologi seperti big data dan kecerdasan buatan (AI).
Menurutnya, jika ruang digital tidak diisi narasi resmi, maka akan diambil alih oleh informasi liar, propaganda asing, hingga opini yang sulit dikendalikan.
"Yang penting adalah membangun ekosistem kerja ideologi digital menggunakan big data dan AI agar bisa memprediksi situasi dan memimpin opini publik," ujarnya.
Pernyataan itu memperlihatkan bagaimana politik modern kini semakin akrab dengan teknologi. Jika dulu propaganda dilakukan lewat poster dan pengeras suara, kini perang gagasan berlangsung melalui algoritma, konten viral, dan notifikasi telepon genggam.
Nguyen Nhat Linh bahkan menyebut anak muda menghabiskan sekitar 6-8 jam per hari di internet. Karena itu, media sosial dianggap bukan sekadar tempat hiburan, melainkan wilayah strategis yang harus “diamankan.”
"Media sosial adalah lini depan, dan kaum muda adalah propagandis di garis depan itu," tegasnya.
Dalam konferensi tersebut, muncul pula pandangan bahwa generasi muda harus menjadi “benteng lunak” di dunia maya. Maksudnya, setiap akun media sosial milik anak muda diharapkan mampu menyebarkan nilai positif sekaligus menjaga arah ideologi negara.
Baca Juga: Dari Kursi Lontar Pesawat (Eject) ke Penangkapan, Nasib Tragis Pilot AS di Pegunungan Iran
Sementara itu, Nguyen Quoc Bao mengingatkan pentingnya pola pikir kritis agar generasi muda tidak mudah terseret arus informasi digital yang semakin sulit dibedakan antara fakta, opini, dan propaganda.
Menurutnya, istilah seperti demokrasi, hak asasi manusia atau kebebasan sering digunakan dalam berbagai narasi politik global yang bisa memengaruhi cara berpikir anak muda.
"Kaum muda harus mampu membedakan yang benar dan salah dengan filter budaya politik dan patriotisme," katanya.
Di akhir diskusi, Vu Trong Kim menutup dengan pesan sederhana namun sarat makna: idealisme besar seharusnya dimulai dari tindakan kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, cinta tanah air tidak selalu harus diteriakkan lewat slogan besar, tetapi juga bisa diwujudkan melalui tanggung jawab terhadap keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekitar.
"Mulailah dari mencintai keluarga dan terhubung dengan rakyat," ujarnya.
Artikel Terkait
Ketika Bantuan Jadi Target, Gaza Terjepit Antara Blokade dan Peluru
Ketika Suara Gen Z Mengguncang Nepal: Dari Protes ke Krisis Nasional
“Perang Melawan Narkoba” atau Sandiwara untuk Ganti Rezim? Panggung Sandiwara Venezuela AS
Menuju Bulan Lagi Setelah 50 Tahun, Artemis II Buka Tiket untuk Semua Orang
Trump: "Kuba Target Selanjutnya" Setelah Iran, Diaz-Canel Tegaskan Kedaulatan Tak Bisa Ditawar
Oracle PHK Ribuan Karyawan di Tengah Ekspansi AI, Estimasi Capai 30.000 Orang!
Panglima TNI Perintahkan Pasukan di Lebanon Masuk Bunker, Hentikan Semua Aktivitas di Luar!
Seruan Macron Guncang Aliansi Barat, Ajak Negara Dunia Berdiri Tanpa AS
Dari Kursi Lontar Pesawat (Eject) ke Penangkapan, Nasib Tragis Pilot AS di Pegunungan Iran
Iran Gugat Amerika ke Den Haag: Drama Nuklir Belum Tamat, Teheran Tagih Tanggung Jawab Washington