LOCUSonline, GARUT - Diskusi soal politik dan ideologi biasanya identik dengan ruangan formal, pidato panjang, serta slide presentasi yang membuat peserta diam-diam membuka media sosial. Namun dalam konferensi bertajuk Kerja Politik dan Ideologi Memimpin Jalan di Era Baru di Vietnam, para akademisi dan tokoh politik justru berbicara serius tentang bagaimana kaum muda kini menjadi sasaran utama perebutan pengaruh di dunia digital.
Di tengah zaman ketika anak muda lebih akrab dengan algoritma ketimbang buku teori politik, para pembicara menilai kerja ideologi tidak bisa lagi hanya mengandalkan slogan dan ceramah satu arah. Resolusi politik, menurut mereka harus diubah menjadi pengalaman nyata yang bisa dirasakan langsung oleh generasi muda.
Profesor Madya Nguyen Quoc Bao dari Akademi Jurnalisme dan Komunikasi menegaskan bahwa pendidikan ideologi tidak boleh berubah menjadi hafalan mekanis yang terdengar seperti rekaman kaset lama yang diputar ulang setiap tahun.
Baca Juga: Seruan Macron Guncang Aliansi Barat, Ajak Negara Dunia Berdiri Tanpa AS
Menurut Bao, pendekatan terhadap generasi muda harus lebih fleksibel, kreatif, dan dekat dengan persoalan sehari-hari masyarakat.
"Pendidikan tidak cukup hanya berhenti pada propaganda. Yang paling penting adalah bagaimana ia terhubung dengan persoalan nyata," ujar Bao dalam konferensi tersebut.
Di era ketika satu video pendek bisa lebih dipercaya daripada seminar tiga jam, para peserta konferensi tampaknya sadar bahwa pertarungan ideologi kini tidak lagi berlangsung di podium, melainkan di lini masa media sosial.
Mantan anggota Komite Sentral Vietnam, Vu Trong Kim, menyebut memenangkan hati rakyat sebagai fondasi utama kerja politik dan ideologi. Menurutnya, pemerintah dan organisasi politik harus lebih banyak mendengar aspirasi masyarakat daripada sekadar sibuk memproduksi jargon.
Ia mengingatkan bahwa rakyat tetap menjadi aktor utama dalam perubahan sosial dan sejarah politik.
"Massa adalah pembuat sejarah revolusioner. Karena itu kebijakan harus selaras dengan aspirasi rakyat," kata Vu Trong Kim.
Sementara itu, Sekretaris Serikat Pemuda Komunis Ho Chi Minh, Dr. Nguyen Nhat Linh, menilai generasi muda sebenarnya tidak kekurangan idealisme. Masalahnya, banyak anak muda merasa hanya dijadikan penonton dalam proses pengambilan keputusan.
Karena itu, ia mendorong agar kaum muda dilibatkan langsung dalam aktivitas sosial dan pembangunan, bukan hanya dijadikan objek kampanye politik.
"Anak muda tidak ingin hanya berdiri di pinggir lapangan. Mereka ingin ikut membangun," ujar Linh.
Baca Juga: Iran Gugat Amerika ke Den Haag: Drama Nuklir Belum Tamat, Teheran Tagih Tanggung Jawab Washington
Program relawan pemuda disebut sebagai salah satu cara mengubah semangat idealisme menjadi tindakan nyata di tengah masyarakat.