LOCUSonline, GARUT - Politik Inggris kembali mempertontonkan drama berseri tanpa jeda. Setelah publik dibuat lelah oleh parade pergantian perdana menteri pasca-Brexit, kini giliran pemerintahan Partai Buruh yang diterpa badai internal. Belum genap menikmati kursi kekuasaan, partai yang dipimpin Perdana Menteri Keir Starmer justru mulai sibuk dengan aroma perebutan kursi sebelum teh di meja kabinet sempat dingin.
Gejolak terbaru muncul setelah seorang pejabat penting pemerintah memilih mundur dari jabatannya sambil meninggalkan oleh-oleh berupa kritik keras terhadap kepemimpinan Starmer. Sang perdana menteri dituding belum memiliki arah dan visi yang cukup kuat untuk membawa Inggris keluar dari tekanan ekonomi dan politik global.
Situasi itu membuat lorong kekuasaan di Westminster kembali riuh oleh bisik-bisik suksesi. Beberapa tokoh Partai Buruh mulai disebut-sebut memanaskan mesin politik, seolah Inggris belum cukup lelah menyaksikan pergantian enam perdana menteri dalam satu dekade terakhir sejak Brexit menjadi pintu pembuka kekacauan panjang negeri tersebut.
Baca Juga: Ketika Suara Gen Z Mengguncang Nepal: Dari Protes ke Krisis Nasional
Keir Starmer sendiri menegaskan belum berniat turun dari kursi kekuasaan. Namun, di tengah politik Inggris yang lebih cepat berubah dibanding cuaca London, pernyataan bertahan sering kali hanya bertahan sampai survei elektabilitas berikutnya keluar.
Nama Andy Burnham mulai ramai diperbincangkan sebagai salah satu figur potensial penerus kepemimpinan Partai Buruh. Starmer bahkan menyatakan tidak akan menghalangi langkah Burnham jika ingin maju ke parlemen, sebuah syarat penting bila ingin ikut bertarung dalam perebutan pucuk pimpinan partai.
Di sisi lain, mantan Menteri Kesehatan Wes Streeting yang telah hengkang dari kabinet juga disebut sedang menghitung peluang. Pengamat politik Inggris menyebut Streeting masih menunggu arah manuver Burnham sebelum menentukan langkah politiknya sendiri.
Ironisnya, pertikaian elite ini muncul ketika Inggris sedang menghadapi tekanan ekonomi global akibat konflik berkepanjangan di Iran dan Ukraina. Di saat publik berharap pemerintah fokus mengendalikan ekonomi, elite politik justru sibuk menghitung kursi dan peluang koalisi internal.
Krisis politik di London bahkan ikut menarik perhatian Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dari atas Air Force One, Trump melontarkan kritik pedas terhadap kebijakan Inggris, khususnya soal imigrasi dan energi.
Menurut Trump, Inggris akan sulit keluar dari tekanan jika pemerintah tidak segera memperbaiki persoalan imigrasi dan memperluas eksplorasi energi domestik.
Baca Juga: Iran Gugat Amerika ke Den Haag: Drama Nuklir Belum Tamat, Teheran Tagih Tanggung Jawab Washington
Meski demikian, Trump menegaskan dirinya tidak secara langsung meminta Starmer mundur dari jabatan perdana menteri. Namun di dunia politik modern, kritik dari Washington sering kali cukup untuk membuat pasar finansial ikut berkeringat.
Reaksi pasar pun langsung terasa. Yield obligasi pemerintah Inggris tenor 30 tahun melonjak hingga 5,845 persen, level tertinggi sejak 1998. Sinyalnya jelas, investor mulai meminta biaya kecemasan lebih mahal untuk menyimpan aset Inggris.
Tak berhenti di situ, yield obligasi tenor 10 tahun juga menyentuh titik tertinggi sejak krisis finansial global 2008. Nilai tukar poundsterling ikut melemah sekitar 2 persen terhadap dolar AS hanya dalam sepekan terakhir.
Sektor perbankan pun terseret arus kepanikan. Saham bank besar seperti Barclays dan Lloyds Banking Group dilaporkan turun sekitar 3 persen, sementara indeks saham Inggris terkoreksi 1,7 persen.