Kamis, 4 Juni 2026

Info Haji 2026: Dari Urusan Ibadah Jadi “Ekosistem Ekonomi”, Jamaah Siap-Siap Masuk Paket Spiritual Plus Bisnis

Photo Author
Bhegin, Locusonline.co
- Jumat, 29 Mei 2026 | 10:30 WIB
Gambar Ilustrasi (Generated by Gemini AI)
Gambar Ilustrasi (Generated by Gemini AI)

LOCUSonline - Pemerintah tampaknya mulai serius membuktikan bahwa ibadah di era modern bukan cuma soal pahala, tetapi juga peluang ekonomi yang bisa dibungkus rapi dalam istilah ekosistem. Tahun 2026 menjadi babak baru penyelenggaraan haji nasional setelah tongkat estafet pengelolaan resmi berpindah dari Kementerian Agama ke Prabowo Subianto dan kabinetnya melalui Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).

Setelah puluhan tahun jamaah akrab dengan drama koper pecah, sandal hilang, hingga antrean toilet lintas negara di bawah koordinasi Kemenag, kini pemerintah menawarkan semangat baru. Bukan hanya pelayanan ibadah, tetapi juga pengembangan ekosistem ekonomi haji dan umrah yang terdengar seperti gabungan antara spiritualitas dan seminar investasi.

Direktorat baru bernama Direktorat Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah menjadi pembeda paling mencolok dibanding era sebelumnya. Jika dulu jamaah hanya fokus menjaga wudu dan kesehatan lutut saat tawaf, kini aroma peluang bisnis ikut berputar bersama putaran thawaf ekonomi nasional.

Baca Juga: Isu Pembatasan Pertalite 1 Juni 2026 Bikin Heboh, Netizen Sudah Panik Duluan Sebelum Pemerintah Bicara

Pengamat menilai, kehadiran direktorat tersebut menjadi sinyal bahwa ibadah haji mulai dipandang sebagai sektor strategis dengan potensi ekonomi raksasa. Mulai dari industri makanan halal, penginapan, penerbangan, logistik, perlengkapan ibadah, hingga potensi investasi umat kini tampaknya masuk radar negara.

Situasi makin menarik ketika sosok pengusaha kondang Jusuf Hamka atau yang akrab disapa Babah Alun disebut ikut dilibatkan sebagai amirul haji. Publik pun mulai menerka-nerka, apakah musim haji ke depan akan menghadirkan manasik plus presentasi peluang usaha syariah.

Sebagai figur yang dikenal piawai membaca peluang bisnis, keterlibatan Babah Alun dianggap bukan tanpa pesan simbolik. Pemerintah seolah ingin menegaskan bahwa haji tidak lagi sekadar perjalanan spiritual tahunan, tetapi juga bagian dari mesin ekonomi umat yang selama ini belum dimaksimalkan.

Di sisi lain, sejumlah kalangan berharap transformasi kelembagaan ini tidak berhenti pada perubahan nama dan penambahan direktorat semata. Sebab, jamaah tetap lebih membutuhkan pelayanan nyata dibanding sekadar istilah keren yang cocok dijadikan bahan presentasi PowerPoint birokrasi.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.663 per Dolar AS, Prabowo Minta Rakyat Tenang Orang Desa Tidak Pakai Dolar

Persoalan klasik seperti keterlambatan layanan, akomodasi, konsumsi, hingga perlindungan jamaah lansia masih menjadi pekerjaan rumah besar. Publik pun menunggu apakah energi baru Kemenhaj benar-benar mampu membuat ibadah haji lebih nyaman atau justru menambah lapisan rapat koordinasi tanpa ujung.

Meski demikian, pemerintah optimistis pembentukan Kemenhaj dapat menciptakan tata kelola haji yang lebih fokus, profesional, dan modern. Dengan jumlah jamaah Indonesia yang selalu terbesar di dunia, sektor ini dinilai memang memiliki potensi ekonomi yang tidak kecil.

Pada akhirnya, masyarakat hanya berharap satu hal sederhana, semoga ibadah tetap menjadi ibadah. Sebab jika semua terlalu sibuk bicara ekosistem ekonomi, jangan sampai nanti jamaah pulang dari Tanah Suci bukan membawa oleh-oleh air zamzam, melainkan proposal kerja sama bisnis.*****

Editor: Bhegin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X