LOCUSonline, JAKARTA - Bursa Efek Indonesia kembali menjadi panggung drama ekonomi nasional setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ambruk 3,54 persen hingga kembali jatuh ke level 6.000-an pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Ketika sebagian besar bursa Asia sedang berpesta di zona hijau, pasar modal Indonesia justru tampil seperti anak kos akhir bulan, lesu, limbung dan kehilangan tenaga.
Nilai transaksi pasar sebenarnya tergolong jumbo, mencapai Rp18,03 triliun dengan volume perdagangan 33,45 miliar saham serta frekuensi transaksi sebanyak 2,11 juta kali. Namun derasnya transaksi itu lebih menyerupai aksi penyelamatan diri investor yang ramai-ramai keluar dari pasar dibanding pesta optimisme.
Sebanyak 700 saham ditutup melemah. Hanya 91 saham yang berhasil naik, sementara 168 saham lainnya memilih diam di tempat, mungkin masih bingung harus ikut panik atau pura-pura tenang.
Kapitalisasi pasar BEI ikut tergerus menjadi Rp10.553 triliun seiring rontoknya mayoritas saham-saham berkapitalisasi besar. Hampir semua sektor masuk zona merah tanpa ampun.
Sektor utilitas menjadi korban paling parah dengan penurunan mencapai 7,80 persen. Di belakangnya, sektor energi turun 6,87 persen, sementara sektor bahan baku terkoreksi 6,09 persen. Gambaran sederhananya, listrik redup, energi melemah, bahan baku ikut tumbang.
Di tengah reruntuhan IHSG, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) masih sempat menjadi penopang indeks dengan kontribusi positif 2,13 poin. Disusul PT Indofood Sukses Makmur Tbk, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk.
Namun kekuatan mereka tidak cukup membendung longsoran saham-saham raksasa lain. PT Astra International Tbk menjadi pemberat utama IHSG dengan tekanan hampir 15 poin. Disusul saham PT Bumi Resources Minerals Tbk, PT Bayan Resources Tbk, dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk.
Saham-saham kelas kakap lain seperti PT Barito Pacific Tbk, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, PT Chandra Asri Pacific Tbk, hingga PT Merdeka Gold Resources Tbk juga ikut terseret dalam gelombang merah besar tersebut.
Ironisnya, saat IHSG terkapar, mayoritas bursa Asia-Pasifik justru tampil perkasa. Indeks Kospi Korea Selatan melesat 8,42 persen, Nikkei Jepang naik 3,14 persen, dan Taiwan menguat 3,37 persen. Bursa Australia, Selandia Baru, hingga Thailand pun ikut menghijau. Indonesia malah seperti siswa yang tertinggal sendiri ketika teman-temannya berhasil naik kelas.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.640 per Dolar, Istana Gelar Rapat Ekonomi Dua Jam dan Ini Hasilnya
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, menyebut pelemahan kali ini bukan sekadar dampak rebalancing indeks global seperti sebelumnya. Ia mengakui bahwa sejumlah kebijakan pemerintah turut memengaruhi persepsi investor.
Salah satu sorotan datang dari kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang mewajibkan penjualan komoditas strategis seperti batu bara, minyak sawit, dan fero alloy melalui BUMN PT Danantara Sumberdaya Indonesia.
Kebijakan sentralisasi itu disebut bertujuan memberantas praktik transfer pricing dan mengoptimalkan devisa ekspor. Namun di pasar modal, investor rupanya langsung menerjemahkan kebijakan tersebut dengan bahasa universal bursa: jual dulu, pikir nanti.
"Saya kira pasti direspons secara jangka pendek," kata Hasan.
Artikel Terkait
Libur Kenaikan Yesus 2026 Bikin Jalan Tol Seperti Karnaval : 487 Ribu Kendaraan Tinggalkan Jabotabek
Rupiah Tembus Rp17.663 per Dolar AS, Prabowo Minta Rakyat Tenang "Orang Desa Tidak Pakai Dolar"
Kemenkeu Bantah Purbaya Usir Investor Asing: Hoaks Beredar Saat Iklim Investasi Sedang Sama Sensitifnya dengan Kurs Rupiah
Rupiah Tembus Rp17.640 per Dolar, Istana Gelar Rapat Ekonomi Dua Jam dan Ini Hasilnya
Koperasi Merah Putih Dikebut di Jawa Barat, Pemerintah Janji Warga Tak Lagi Keliling Cari LPG dan Beras
Isfy Putri dan Ayam Bengras Garut: Saat Anak Muda Pilih Jualan Ayam Rp7 Ribu daripada Cuma Jadi Penonton Kesuksesan Orang Lain
Anggaran MBG Dipangkas Rp67 Triliun, Pemerintah Janji Anak Sekolah Tetap Kenyang Meski APBN Lagi Diet
Prabowo Tegaskan Ekonomi Pancasila: Negara Harus Hadir, Bukan Sekadar Muncul Saat Potong Pita
Pertamina Temukan 11 Miliar Barel “Minyak Bukan Kaleng-Kaleng”, Investor Masih Dicari, Fiskal Masih Dinego
Rupiah Melemah, Orang Kantoran Mulai Tinggalkan Mal: Bekal dari Rumah Kini Lebih Romantis daripada Food Court