LOCUSonline, GARUT - Memilih sekolah di era sekarang rupanya tidak lagi sesederhana mencari gedung paling dekat dari rumah atau sekolah dengan pagar paling mewah. Para orangtua kini menghadapi tantangan baru untuk memahami kurikulum pendidikan yang namanya kadang terdengar seperti program beasiswa luar negeri, padahal ujungnya tetap anak yang harus mengerjakan PR.
Di Indonesia, pilihan sistem pendidikan semakin beragam. Selain Kurikulum Merdeka yang diterapkan secara nasional, hadir pula kurikulum internasional seperti International Baccalaureate (IB), Cambridge Assessment International Education, hingga metode Montessori yang populer di kalangan keluarga urban.
Akibatnya, sebagian orangtua kini bukan hanya sibuk menyiapkan uang pangkal sekolah tetapi juga harus mendadak menjadi pakar pendidikan demi menentukan masa depan anak.
Kurikulum Merdeka: Anak Diajak Berpikir, Bukan Sekadar Menghafal
Kurikulum nasional Indonesia saat ini dikenal dengan nama Kurikulum Merdeka. Sistem ini hadir sebagai penyempurnaan dari Kurikulum 2013 dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan berpusat pada siswa.
Jika dulu sebagian siswa merasa sekolah identik dengan lomba hafalan dan tugas menumpuk, Kurikulum Merdeka mencoba mengubah pola tersebut. Materi dibuat lebih sederhana agar siswa dapat memahami konsep secara mendalam, bukan sekadar mengingat isi buku lalu lupa setelah ujian selesai.
Salah satu ciri khasnya adalah program Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau P5. Dalam program ini, siswa diajak belajar melalui proyek nyata seperti isu lingkungan, budaya lokal, kewirausahaan, hingga literasi digital.
Guru pun diberi ruang lebih besar untuk menyesuaikan metode pembelajaran sesuai kebutuhan siswa. Meski demikian, di lapangan masih ada guru yang diam-diam berharap kemerdekaan belajar juga disertai kemerdekaan dari administrasi yang menumpuk.
IB: Ketika Anak Sekolah Diajak Jadi Warga Dunia
Kurikulum IB atau International Baccalaureate dikenal sebagai sistem pendidikan internasional yang banyak digunakan sekolah elite di berbagai negara.
Berbeda dengan model pendidikan yang terlalu fokus pada nilai ujian akhir, IB lebih menekankan proses belajar menyeluruh. Siswa dituntut aktif berdiskusi, berpikir kritis, melakukan penelitian, hingga menganalisis persoalan global.
Penilaian dalam sistem IB tidak hanya berasal dari ujian tertulis, tetapi juga proyek, presentasi, esai dan penelitian mandiri.
Bahasa pengantar yang digunakan umumnya bahasa Inggris. Karena itu, kurikulum ini banyak dipilih keluarga yang ingin mempersiapkan anak melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
Di sistem ini, siswa tidak cukup hanya pintar menjawab soal pilihan ganda. Mereka juga dituntut mampu menjelaskan alasan, membuat analisis, hingga mempertahankan argumen. Singkatnya, bukan sekadar belajar demi nilai, tetapi belajar agar tidak bingung saat diminta berpikir sendiri.