Visi "Garut Hebat" yang digaungkan pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Garut, Syakur Amin dan Putri Karlina, sempat menjadi magnet dukungan massif. Tapi belakangan, gemuruh itu seperti mulai redup—bukan karena serangan lawan, melainkan dari dalam kubu sendiri. Benarkah koalisi besar mereka mulai retak?
GARUT, LOCUSONLINE – Visi "Garut Hebat" yang dulu lantang disuarakan oleh pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Garut, Syakur Amin dan Putri Karlina, pada awalnya berhasil menarik gelombang dukungan yang sangat besar dari berbagai lapisan masyarakat. Visi ini seolah menjadi daya tarik utama yang menyatukan aspirasi banyak pihak untuk perubahan positif di Garut. Namun, seiring berjalannya waktu, antusiasme yang sempat membara itu kini tampak meredup secara perlahan.
Fenomena ini cukup mengkhawatirkan, terutama karena bukan disebabkan oleh kampanye negatif atau serangan dari rival politik mereka. Justru, sumber permasalahan datang dari internal koalisi pendukung Syakur Amin dan Putri Karlina itu sendiri. Muncul pertanyaan besar, apakah benar koalisi besar yang mereka bangun dengan susah payah mulai mengalami keretakan dan perpecahan dari dalam? Isu ini menjadi sorotan utama dan menimbulkan spekulasi mengenai stabilitas serta soliditas tim pemenangan mereka menjelang pemilihan kepala daerah.
Dari Puncak Popularitas ke Gelombang Kritik Internal
Awalnya, Syakur-Putri dianggap sebagai "dream team": Syakur, sang rektor yang berwibawa, dan Putri, dokter gigi yang piawai mengelola bisnis. Dukungan 12 partai politik dengan 36 kursi DPRD seharusnya menjadi senjata pamungkas . Tapi, sumber internal mengungkapkan, beberapa kader partai koalisi mulai mempertanyakan implementasi program unggulan seperti 100 Ribu Lapangan Kerja dan Satu Desa Satu Sarjana. "Janji itu muluk, tapi detailnya minim. Kami khawatir ini hanya jargon kampanye," ujar seorang kader yang enggan disebut namanya .
Program Unggulan atau Beban Politik?
Syakur-Putri memang punya segudang rencana: dari Garut Digital Valley untuk startup muda, hingga Satgasus Jalan Berlubang yang viral. Tapi, pendukung mulai geregetan. Contohnya, program Wira HEBAT (Satu Desa Satu Wirausaha) yang disebut-sebut sebagai solusi pengangguran. Di lapangan, pelaku UMKM seperti pengusaha kopi di Desa Sukahurip justru mengeluh minimnya pendampingan. "Dinas Koperasi tak pernah turun tangan," protes salah satu pelaku usaha .
Koalisi Besar, Tantangan Besar
Koalisi 12 partai mungkin menguasai kursi DPRD, tapi juga rentan konflik kepentingan. "Setiap partai punya agenda sendiri. Sulit menyatukan visi jika tidak ada reward yang jelas," kata pengamat politik lokal. Isu lain yang mengemuka: pembagian "jatah" jabatan di pemerintahan nanti jika mereka menang. Kabarnya, beberapa partai sudah mulai bersikap wait and see .
Mampukah Syakur-Putri Menahan Amuk Pendukung?
Pasangan ini masih punya waktu untuk membenahi komunikasi. Tapi, tekanan semakin nyata setelah track record Putri sebagai pengusaha dipertanyakan. "Apakah kebijakan nanti akan pro-rakyat atau justru menguntungkan bisnis keluarganya?" tulis akun anonim di media sosial. Syakur-Putri pun dituntut lebih transparan, termasuk soal pendanaan program .