Teddy juga menyoroti pentingnya membangun kedekatan personal antar pemimpin dunia. Menurutnya, hubungan internasional tidak selalu bisa dibangun hanya melalui layar komputer atau panggilan video.
Di era penuh konflik dan ketidakpastian global, hubungan emosional antar kepala negara menjadi aset diplomasi yang tidak dapat dihitung dengan kalkulator anggaran.
"Kita tidak bisa hanya menghubungi negara lain saat sedang membutuhkan bantuan. Hubungan baik harus dibangun jauh sebelum krisis datang," ujarnya.
Baca Juga: Sapi Kurban Prabowo dari APBN Jadi Perdebatan, Istana Pastikan Sapi Tak Ikut Rapat Kabinet
Lebih jauh, Teddy membantah anggapan bahwa kunjungan luar negeri Presiden hanya bersifat seremonial atau pencitraan semata. Ia mengklaim sejumlah hasil diplomasi mulai terlihat dalam bentuk kerja sama ekonomi, investasi, hingga posisi strategis Indonesia di berbagai forum internasional.
Pemerintah mencatat nilai investasi yang masuk ke Indonesia selama satu setengah tahun terakhir mencapai sekitar Rp2.430 triliun. Selain itu, kunjungan Presiden ke Jepang dan Korea Selatan disebut menghasilkan komitmen investasi baru senilai sekitar Rp575 triliun.
Di sektor lain, pemerintah juga mengaitkan berbagai capaian seperti penguatan kerja sama internasional, pengembangan sektor pertahanan, penyelenggaraan ibadah haji, dukungan terhadap Palestina, hingga stabilitas pasokan energi dan pangan sebagai bagian dari hasil diplomasi aktif Indonesia.
Meski demikian, kritik yang dilontarkan Dino tetap mendapat perhatian publik. Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat itu bahkan menyarankan agar pemerintah memanfaatkan teknologi komunikasi modern untuk mengurangi kebutuhan perjalanan fisik yang dianggap terlalu intensif.
Menurutnya, sebagian besar pembicaraan strategis antar pemimpin dunia kini dapat dilakukan melalui telekonferensi maupun pertemuan virtual tanpa mengurangi substansi diplomasi.
Di tengah silang pendapat tersebut, publik kini dihadapkan pada dua pandangan yang sama-sama memiliki argumen kuat. Satu pihak melihat diplomasi aktif sebagai investasi hubungan jangka panjang, sementara pihak lain mengingatkan pentingnya efisiensi dan pengelolaan persepsi publik.
Yang pasti, dalam politik luar negeri modern, perjalanan seorang presiden tak lagi sekadar soal berangkat dan pulang. Sebab di era media sosial, setiap tiket pesawat bisa berubah menjadi bahan perdebatan nasional, sementara setiap hasil diplomasi dituntut untuk segera terlihat sebelum roda pesawat berhenti berputar.
Dan di situlah ironi diplomasi bekerja, ketika keberhasilan diukur dari hasil, tetapi perjalanan menuju hasil itu sendiri sudah lebih dulu diadili.*****