LOCUSonline, SURABAYA - Dunia politik tampaknya mulai kehilangan penggemar dari generasi muda. Bukan karena kurang drama, melainkan karena terlalu kaku seperti rapat tanpa kopi. Jarak antara Gen Z, milenial, dan politik kini makin terasa dan jika dibiarkan, bukan tidak mungkin demokrasi akan kekurangan penonton kritis.
Fenomena ini disoroti oleh Lia Istifhama dalam forum Rapat Koordinasi Teknis (Rakortek) Bidang Kaderisasi dan Pemuda yang digelar Partai Golkar Jawa Timur.
Menurutnya, salah satu penyebab utama anak muda menjauh adalah gaya komunikasi politik yang masih model lama, formal, kaku dan kadang terasa seperti membaca buku undang-undang sebelum tidur.
"Kalau politik terus disampaikan dengan cara lama, anak muda akan merasa tidak punya ruang di dalamnya," tegas Lia.
Dalam forum tersebut, Lia memperkenalkan konsep "SENI"sebuah pendekatan komunikasi politik yang, ironisnya, mencoba membuat politik terasa lebih manusiawi.
Konsep SENI terdiri dari empat pilar, yaitu Strategy (Strategi), yakni bagaimana pesan politik dikemas kreatif agar tidak terdengar seperti pidato monoton; Equity (Keadilan), memastikan kebijakan tidak hanya ramah di atas kertas; Nation (Bangsa), mengingatkan bahwa politik seharusnya kembali ke kepentingan publik, bukan sekadar panggung elite dan Integrity (Integritas), yang meski sering disebut masih terus diuji dalam praktik.
Lia menilai, rendahnya minat generasi muda bukan sekadar masalah partai politik, melainkan ancaman bagi kualitas demokrasi itu sendiri. Ketika anak muda memilih diam, fungsi kontrol terhadap kebijakan publik ikut melemah.
"Generasi muda hari ini calon pemimpin masa depan. Kalau mereka apatis, demokrasi bisa kehilangan daya kritisnya," ujarnya.
Anggota DPR RI, Fathoni, menilai pendekatan tersebut sebagai langkah yang lebih kontekstual. Ia menyebut konsep SENI sebagai upaya menyederhanakan bahasa politik agar lebih nyambung dengan generasi digital.
Sementara itu, panitia kegiatan, Aan Ainur Rofiq, menegaskan bahwa perubahan strategi bukan lagi opsi tambahan, melainkan kebutuhan mendesak.
"Gen Z itu kritis dan digital. Kalau pendekatannya tidak berubah, ya mereka akan tetap jauh," katanya.
Realitas ini menunjukkan bahwa politik kini menghadapi tantangan baru: bukan hanya soal perebutan kekuasaan, tetapi juga soal merebut perhatian generasi yang lebih akrab dengan algoritma dibandingkan manifesto.
Pendekatan seperti SENI dinilai menjadi sinyal pergeseran arah politik, dari yang sebelumnya elitis menuju lebih inklusif dan partisipatif. Namun, pertanyaannya sederhana. Apakah perubahan ini benar-benar akan dijalankan, atau hanya menjadi konsep menarik di ruang seminar?